Indeks berpotensi melemah lagi

JAKARTA: Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi masih berpotensi melemah di kisaran 3.796-3.849 pada hari ini karena dibayangi oleh aksi ambil untung.Research Analyst PT eTrading Securities Wisnu Karto mengatakan secara teknikal indeks masih rawan
Yusuf Waluyo Jati
Yusuf Waluyo Jati - Bisnis.com 31 Mei 2011  |  00:28 WIB

JAKARTA: Indeks harga saham gabungan (IHSG) diprediksi masih berpotensi melemah di kisaran 3.796-3.849 pada hari ini karena dibayangi oleh aksi ambil untung.Research Analyst PT eTrading Securities Wisnu Karto mengatakan secara teknikal indeks masih rawan terhadap aksi ambil untung (profit taking). Secara fundamental, lanjutnya, pasar juga masih menunggu sentimen positif yang dapat mendorong laju indeks."Masih sepi sentimen positif. Mungkin hanya pengumuman angka inflasi untuk Mei ini saja yang ditunggu investor," ujarnya kepada Bisnis kemarin.Wisnu mengungkapkan data penjualan rumah Amerika Serikat kemungkinan menjadi berita buruk bagi bursa global, termasuk bursa Tanah Air meskipun tidak terlalu signifikan.Pada perdagangan kemarin, indeks tertekan sejak awal. Kemungkinan deflasi pada Mei ini, seperti yang diisyaratkan BPS dan BI tidak mampu menopang penurunan indeks. Dalam perdagangan itu, indeks melemah 0,16% ke level 3.826,14. Sementara indeks BISNIS-27 terjatuh 0,12% ke level 331,80.BPS baru akan merilis data inflasi besok dan kemungkinan terjadinya deflasi sangat besar. Penurunan harga pangan, khususnya cabai, beras dan gula memperkuat prediksi tersebut. BPS memperkirakan terjadi deflasi 0,1%-0,2% pada Mei ini dibandingkan dengan April.BI memprediksi hal yang sama dan kemungkinan terjadi deflasi 0,1% pada April. Meski begitu kenaikan harga emas dan minyak mentah harus diwaspadai. Kabar positif datang dari pertemuan G8 yang menyatakan pemulihan ekonomi global sudah cukup kuat dan tumbuh semakin cepat.Wisnu merekomendasikan saham BBRI, BJBR, dan BULL yang menjadi penggerak indeks sebagai saham pilihan. Saham yang kemungkinan akan tertekan adalah PGAS dan AKRA. "PGAS dan AKRA kenaikannya sudah cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir, jadi kemungkinan investor akan mulai melakukan profit taking," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top