JAKARTA: Para trader komoditas menaikkan penjualannya terhadap exchange traded fund (ETF) berbasis komoditas energi dan logam karena potensi penurunan harga setelah reli dalam dua tahun.
Akibat kondisi itu, investor kembali memegang aset saham dan melepas komoditas. Posisi terbuka (open interest) untuk menjual indeks iShare S&P GSCI Commodity-Indexed Trust mencapai dua kali lipat pada pekan lalu hingga mencapai rekor 18.797 kontrak.
Aksi lepas exchange traded fund (ETF), atau reksa dana yang ditransaksikan di bursa berbasis energi dan logam mencapai 5,4% dalam lima pekan setelah sebelumnya mencapai rekor 7.915 kontrak.
Investor melihat ada potensi penurunan harga komoditas. Kedepannya, kita akan melihat investor lebih tertarik menjual aset komoditas ketika pemulihan ekonomi berlanjut dan orang-orang lebih memilih kembali memegang aset berbentuk saham, kata Paul Justice, direktur riset ETF Morningstar Inc di Chicago seperti dikutip Bloomberg, Minggu.
Indeks Standard & Poors 500, indeks saham di AS, mencatat kenaikan dalam ketujuh pekannya atau kenaikan terpanjang sejak Mei 2007 dan itu dipicu pemulihan ekonomi yang mulai berlanjut di negeri konsumen komoditas terbesar dunia. Komoditas memimpin kenaikan harga pada tahun lalu dibandingkan dengan saham, obligasi dan dolar. Harga minyak dan jagung mencapai level tertinggi dua tahun dan komoditas lainnya seperti tembaga mencapai rekor.
ETF terpangkas 0,7% menjadi US$34,35 pada akhir pekan, turun dari level tertingginya sejak November 2008. Pada tahun lalu, harga ETF naik 6,5% dan menanjak 30% dari level terendah setahunnya pada Mei. Sekitar dua pertiga dari ETF berbasiskan komoditas energi. Sekitar 70% diinvestasikan dalam aset pertanian dan logam industri serta logam mulia.
Kepala Riset PT Askap Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan untuk harga komoditas berbasiskan risiko yakni emas dan perak, berpotensi terkoreksi seiring kembali pulihnya perekonomian khususnya di AS.
Logam mulia seperti emas dan perak, berpotensi terkoreksi setelah kembali pulihnya perekonomian, karena komoditas ini biasanya dijadikan pilihan untuk antisipasi risiko atau safe haven, kata Wahyu kepada Bisnis, Minggu. (fh)