Rupiah tertekan bursa dan valuta regional

JAKARTA: Rupiah kembali melemah tipis seiring koreksi di bursa saham domestik dan depresiasi mata uang di kawasan Asia seiring menanjaknya dolar AS akibat aksi ambil untung investor.
Bambang Supriyanto
Bambang Supriyanto - Bisnis.com 13 Desember 2010  |  05:59 WIB

JAKARTA: Rupiah kembali melemah tipis seiring koreksi di bursa saham domestik dan depresiasi mata uang di kawasan Asia seiring menanjaknya dolar AS akibat aksi ambil untung investor.

Namun, rupiah akan mendapat dorongan dari optimisme pelaku pasar akan meningkatnya peringkat Indonesia sehingga akan meningkatkan kepercayaan investor asing akan perekonomian Tanah Air.Setelah pada pekan lalu ditutup melemah, rupiah kembali terdepresiasi 0,05% menjadi Rp9.022 per dolar AS. Tekanan atas rupiah masih terjadi di tengah aksi ambil untung (profit taking) yang melanda Bursa Efek Indonesia sehingga memangkas indeks harga saham gabungan (IHSG) minus 1,09% menjadi 3.706 saat penutupan perdagangan sesi I siang.Head of Treasury Bank Negara Indonesia Nurul Eti Nurbaeti mengatakan berlangsungnyasupremasi dolar AS cenderung membebani rupiah di tengah pergerakan mixed bursa-bursa regional yang melakukan aksi menungggu (wait and see) atas sinyal positif ekonomi global."Hari ini rupiah bergerak dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. Dominasi dolar AS atas major currency berpotensi menambah tekanan atas pergerakan rupiah di tengah eskalasi permintaan dolar AS akhir tahun, kata Nurul dalam riset hariannya yang diterima Bisnis, hari ini.Dia menambahkan rupiah akan tertolong dari berseminya kepercayaan global berpotensi mengurangi tekanan pergerakan indeks bursa domestik hingga cenderung memberi sentimen positif pergerakan rupiah. Ditambah lagi, kehadiran Bank Indonesia selalu mengawal stabilitas nilai tukar rupiah.Rupiah sempat menyentuh level Rp8.875 per dolar AS, level terkuat sejak 2007 yang dicapainya pada 5 November. Pada tahun ini, rupiah sudah terapresiasi 4,1%.Selain itu, rupiah juga mendapat dukungan dari pasar saham. Investor asing membukukan beli bersih saham senilai US$328 juta periode 10 Desember. Kepemilikan asing di surat utang negara juga meningkat menjadi 79% senilai Rp193 triliun (US$21,4 miliar) pada tahun ini periode 6 Desember.VP Riset dan Analis Valbury Asia Futures Nico Omer Jonckhere mengatakan faktor yang diperkirakan memberikan dampak terhadap pergerakan rupiah dan IHSG dalam minggu ini, yakni pelaku pasar tetap akan menyikapi sejumlah rilis data ekonomi AS yang dapat berdampak terhadap pergerakan indeks global serta imbas bisa terjadi bagi rupiah dan IHSG.Perkembangan yang terjadi di semenanjung Korea, seiring dengan meredanya ketegang dua negara di Asia Timur tersebut akan memengaruhi pergerakan indeks kawasan Asia dalam pekan ini. Meredanya konflik ini dapat menghilangkan rasa kekhawatiran bagi pelaku pasar di Asia.Pelaku pasar, lanjut Nico, juga memerhatikan Moodys Investor Service yang tengah melakukan review dan evaluasi untuk peringkat (rating) Indonesia ke posisi layak investasi (investment grade).Sejauh ini Moodys memberikan pandangan cukup positif terhadap kondisi makro ekonomi Indonesia. Sebelumnya Moodys telah menetapkan peringkat surat utang Indonesia di Ba2B2 atau dua level di bawah investment grade.Mata uang di kawasan Asia juga terpangkas seiring penguatan dolar AS. Indeks dolar Asia yang tercatat dalam Bloomberg-JPMorgan Asia Dollar Index terpangkas 0,3% menjadi 114,85.Rupee India terdepresiasi 0,3% menjadi 45,19 per dolar dan won Korsel minus 0,2% menjadi 1.145,73. Yuan China minus 0,06% menjadi 6,6593. Indeks dolar AS menguat 0,2% dipicu kekhawatiran akan krisis utang di Eropa.(yn)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top