BURSA AS: Trump Ajukan Potong Pajak Bisnis, Wall Street Ditutup Melemah

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 21,03 poin atau 0,1% ke level 20.975,09, sedangkan indeks Standard & Poors 500 kehilangan 1,16 poin atau 0,05% ke 2.387,45.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 April 2017 08:05 WIB
Bursa Saham AS Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham AS melemah pada perdagangan Rabu (26/4/2017), menyusul ketidakpastian mengenai kelayakan rencana pemotongan pajak bisnis oleh Presiden Donald Trump.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 21,03 poin atau 0,1% ke level 20.975,09, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 kehilangan 1,16 poin atau 0,05% ke 2.387,45.

Seperti dilansir Reuters, pemerintahan Trump mengajukan proposal untuk memangkas tarif pajak bisnis dan pajak perusahaan luar negeri yang kembali ke negara tersebut. Selain itu, dia menawarkan pengampunan pajak yang besar bagi perusahaan multinasional yang membawa pulang uangnya ke AS.

Salah satu pejabat Gedung Putih mengatakan, secara lebih rinci, Trump menginginkan agar perusahaan dengan skala kecil baik berbentuk kemitraan atau pribadi dikenai tarif 15% atau turun dari tingkat sekarang yang mencapai 39,6%.

Namun, Trump tidak memberikan detail mengenai cara pemotongan tanpa harus meningkatkan defisit anggaran.

"Banyak yang bisa dicerna di sisi pajak dan sejujurnya kita tidak memiliki banyak rincian pada saat ini selain hanya beberapa butir poin dari konferensi pers," kata David Lefkowitz, analis ekuitas senior UBS Wealth Management Americas, seperti dikutip Reuters.

"Ini akan menjadi perjuangan berat (bagi pemerintahan Trump) agar dapat membuat rencana diberlakukan menjadi undang-undang," lanjutnya.

Ekspektasi pemotongan pajak perusahaan telah mendorong reli di bursa Wall Street pilpres bulan November lalu. Namun, penguatan bursa terhenti selama beberapa pekan terakhir karena pemerintah gagal membuat kemenangan legislatif besar, bahkan dengan mayoritas Partai Republik di Parlemen dan Senat sekalipun.

Indeks S&P 500 diperdagangkan di atas rekor penutupan tertinggi sepanjang perdagangan kemarin. Beberapa analis mengatakan meskipun reformasi pajak akan menjadi dorongan utama bagi pertumbuhan saham, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan cukup untuk menopang pasar saham saat ini.

Berdasarkan data Thomson Reuters I/B/E/S, secara keseluruhan laba emiten di indeks S&P 500 diperkirakan naik 11,8% pada kuartal pertama tahun ini, terbesar sejak 2011.

Di antara saham yang diperdagangkan, United Technologies naik 1,1% ke level US$118,20 dan memberikan dorongan terbesar bagi indeks Dow Jones setelah melaporkan laba kuartalan yang mengalahkan ekspektasi, didorong oleh naiknya penjualan di keempat unit bisnisnya.

Di sisi lain, saham Boeing turun sekitar 1% setelah melaporkan penurunan pendapatan.

Tag : bursa as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top