Laba Inti Unilever Tembus Rp2,1 Triliun, Cek Rekomendasi Saham UNVR

Laba Unilever Indonesia (UNVR) naik 10,2% YoY di semester I/2026, IPOT merekomendasikan hold dengan target harga Rp2.100 per saham.
Unilever/www.unilever.co.id
Unilever/www.unilever.co.id

Bisnis.com, JAKARTA — PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) membukukan laba inti (core profit) sebesar Rp2,1 triliun pada semester I/2026 atau tumbuh 10,2% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kendati kinerja sejalan dengan ekspektasi pasar, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) masih mempertahankan rekomendasi hold terhadap saham UNVR dengan target harga Rp2.100 per saham.

Pada penutupan perdagangan Selasa (28/7/2026) selepas rilis laporan keuangan semester I/2026, saham UNVR naik 1,49% atau 25 poin menjadi Rp1.705. Secara year-to-date (YtD) saham produsen Lifebuoy hingga Pepsodent tersebut masih terkoreksi 34,42%.

Analis IPOT Andrianto Saputra dan Nicholas Bryan mengatakan laba inti UNVR pada semester I/2026 telah mencapai sekitar 52% dari proyeksi IPOT dan 51% dari konsensus pasar untuk periode setahun penuh. 

Penjualan bersih perseroan sebesar Rp16,9 triliun atau naik 7,1% YoY juga dinilai sesuai dengan estimasi 51% full year.

"Kinerja semester I/2026 secara umum in-line dengan proyeksi kami maupun konsensus, meski margin laba kotor masih berada di bawah tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku," tulis Andrianto dan Nicholas dalam risetnya, Selasa (28/7/2026).

Secara keseluruhan, margin laba kotor (gross profit margin/GPM) UNVR pada semester I/2026 turun menjadi 46,6% dari 48,3% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rasio beban operasional terhadap penjualan membaik menjadi 31,6%, sehingga margin laba usaha (EBIT) tercatat sebesar 15%.

Pada kuartal II/2026, penjualan bersih UNVR tumbuh 11,6% YoY menjadi Rp8,5 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan (underlying volume growth/UVG) sebesar 12,7%, sementara pertumbuhan harga jual (underlying price growth/UPG) masih negatif 1,7% akibat penyesuaian harga agar produk tetap kompetitif.

Menurut Andrianto, lonjakan volume penjualan pada kuartal II/2026 juga dipengaruhi oleh rendahnya basis perbandingan pada periode yang sama tahun lalu serta pergeseran momentum Hari Raya Idulfitri. Distributor disebut mulai melakukan penambahan persediaan pada April 2026, berbeda dengan tahun sebelumnya yang terjadi pada Maret.

Meski penjualan membaik, laba bersih kuartal II/2026 hanya meningkat 4,8% YoY menjadi Rp829 miliar. Kinerja tersebut tertahan oleh penurunan GPM menjadi 45% atau turun 316 basis poin dibandingkan kuartal II/2025.

Andrianto menjelaskan tekanan margin berasal dari kenaikan harga minyak sebagai bahan baku yang mencapai sekitar 45% secara tahunan, di tengah penyesuaian harga jual yang lebih rendah. Selain itu, biaya distribusi juga meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar sehingga rasio beban operasional terhadap penjualan naik menjadi 33,9%.

"Akibatnya, margin EBIT turun menjadi 11,1% pada kuartal II/2026, sementara margin laba bersih tercatat sebesar 9,8%," tulisnya.

Meski demikian, IPOT memperkirakan tekanan terhadap margin laba kotor akan mulai mereda pada paruh kedua 2026. Perseroan telah menerapkan kenaikan harga secara selektif sebesar 3% hingga 5% pada sejumlah produk sejak Juni 2026 untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan baku.

Di sisi lain, manajemen UNVR masih memperkirakan akan membukukan biaya transformasi sekitar Rp180 miliar pada kuartal III/2026 atau setara sekitar 2% dari penjualan. Beban tersebut diproyeksikan menurun pada kuartal IV/2026.

IPOT memproyeksikan kinerja UNVR akan terus bertumbuh hingga akhir tahun. Pendapatan perseroan diperkirakan mencapai Rp33,11 triliun pada 2026, meningkat sekitar 3,7% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp31,94 triliun.

Sejalan dengan itu, laba inti UNVR diproyeksikan naik 13,7% secara tahunan menjadi Rp4,02 triliun pada 2026, dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp3,54 triliun. 

"Pertumbuhan tersebut ditopang oleh perbaikan volume penjualan, penyesuaian harga produk, serta normalisasi margin laba pada semester II/2026," imbuh analis IPOT.

Berdasarkan prospek tersebut, IPOT mempertahankan rekomendasi hold untuk saham UNVR dengan target harga Rp2.100 per saham. Valuasi tersebut didasarkan pada proyeksi price to earnings (PE) sebesar 20 kali untuk 2026.

Adapun, risiko utama terhadap prospek kinerja UNVR berasal dari potensi harga minyak yang tetap tinggi sehingga menekan margin laba kotor, serta daya beli masyarakat yang masih lemah dan berpotensi membatasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

 
Add Bisnis.com as a preferred source on Google

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

    Berita Terbaru

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    # Hot Topic

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    Rekomendasi Kami

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

    Foto

    Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro