Bisnis.com, JAKARTA – Prospek saham emiten telekomunikasi dinilai semakin menarik setelah pemerintah menyelesaikan lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz. Tambahan spektrum tersebut diperkirakan akan memperkuat kapasitas jaringan, mendorong kualitas layanan 4G dan 5G, serta membuka ruang perbaikan pendapatan operator dalam jangka menengah.
Dalam laporan riset bertajuk Telecommunications – Everyone Won but Nobody Got Faster yang diterbitkan pada 27 Juli 2026, Mirae mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor telekomunikasi.
Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja menilai hasil lelang menjadi katalis positif karena seluruh operator seluler utama memperoleh tambahan spektrum dengan struktur biaya yang masih dapat dikelola, sementara kompetisi industri diperkirakan tetap lebih rasional pascakonsolidasi.
Penyelesaian lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menjadi katalis baru bagi sektor telekomunikasi. Meski seluruh operator memperoleh tambahan spektrum, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai peningkatan kapasitas jaringan belum akan langsung diterjemahkan menjadi lonjakan kecepatan internet nasional.
Namun, dari sisi investasi, prospek emiten telekomunikasi justru semakin menarik berkat perbaikan struktur industri, valuasi yang masih murah, dan potensi pertumbuhan laba dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, hasil lelang memberikan manfaat kepada seluruh operator karena masing-masing memperoleh tambahan kapasitas spektrum. Namun, Indonesia masih menghadapi keterbatasan spektrum pita menengah (3,5 GHz) yang menjadi fondasi utama jaringan 5G berkapasitas tinggi.
Baca Juga
Sebagaimana diketahui, Komdigi mengalokasikan total 260 MHz spektrum melalui pita 700 MHz dan 2,6 GHz. Telkomsel memperoleh tambahan 100 MHz, sedangkan XLSmart Telecom Sejahtera (EXCL) dan Indosat (ISAT) masing-masing memperoleh 80 MHz. Dengan hasil tersebut, Telkomsel tetap menjadi operator dengan kepemilikan spektrum terbesar secara absolut, sementara XLSmart masih memiliki kapasitas spektrum tertinggi jika dihitung berdasarkan jumlah pelanggan.
Mirae mencatat Telkomsel kini menguasai sekitar 48,5% dari total spektrum nasional, sedangkan pangsa pelanggan perusahaan sekitar 37,2%. Sebaliknya, XLSmart menguasai sekitar 32,6% spektrum dengan pangsa pelanggan hanya 23,6%, sehingga operator hasil merger XL Axiata dan Smartfren tersebut dinilai memiliki kapasitas jaringan per pelanggan paling besar di industri.
Meski demikian, Mirae menegaskan tambahan spektrum kali ini belum cukup mengubah kualitas layanan secara drastis. Indonesia diperkirakan hanya memiliki sekitar 240 MHz spektrum yang dapat dimanfaatkan untuk layanan seluler, jauh di bawah Malaysia yang telah memiliki sekitar 400 MHz, Singapura 520 MHz, dan Korea Selatan sekitar 630 MHz.
Kekurangan spektrum 3,5 GHz membuat kapasitas jaringan Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tersebut. Bahkan, berdasarkan perhitungan GSMA dan Coleago Consulting, Jakarta sendiri membutuhkan sedikitnya 1.910 MHz spektrum mid-band pada 2030 agar mampu memenuhi kebutuhan trafik data masa depan.
Menurut Mirae, keterbatasan tersebut menjelaskan mengapa hasil lelang membuat seluruh operator memperoleh tambahan kapasitas, tetapi belum cukup untuk meningkatkan kecepatan internet nasional secara signifikan. Perbaikan kualitas layanan diperkirakan berlangsung bertahap seiring pembangunan jaringan baru dan optimalisasi spektrum yang baru diperoleh.
Di sisi lain, kondisi industri justru makin kondusif bagi pertumbuhan laba operator. Mirae melihat kompetisi tarif seluler kini jauh lebih rasional dibandingkan beberapa tahun lalu setelah konsolidasi industri. Integrasi jaringan pascamerger XLSmart juga diperkirakan menghasilkan efisiensi biaya operasional, sedangkan kenaikan average revenue per user (ARPU) berpotensi berlanjut seiring membaiknya kualitas layanan.
Selain faktor fundamental, valuasi saham sektor telekomunikasi juga dinilai masih menarik. Mirae mencatat sektor telekomunikasi Indonesia diperdagangkan pada EV/EBITDA 2027 sekitar 3,9 kali, atau sekitar 35% lebih murah dibandingkan rata-rata perusahaan telekomunikasi regional yang berada di kisaran 6,1 kali. Diskon valuasi tersebut dinilai belum mencerminkan potensi pertumbuhan laba pascalelang spektrum.
Dari ketiga saham tersebut, EXCL menjadi top pick Mirae karena memiliki potensi kenaikan harga tertinggi. Selain memperoleh kapasitas spektrum yang memadai, perusahaan diperkirakan menikmati sinergi jaringan pascamerger, efisiensi operasional, dan valuasi yang masih sangat menarik.
Sementara itu, ISAT dinilai tetap memiliki prospek pertumbuhan laba yang kuat berkat disiplin investasi dan peningkatan utilisasi jaringan. Adapun TLKM dipandang sebagai pilihan defensif karena memiliki fundamental yang solid, kepemilikan spektrum terbesar, serta potensi dividen yang konsisten.
Secara keseluruhan, Mirae menilai kombinasi pemulihan ARPU, kompetisi industri yang lebih sehat, efisiensi pascakonsolidasi, valuasi yang murah, dan potensi dividen yang menarik menjadi katalis positif bagi sektor telekomunikasi. Tambahan spektrum menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan pendapatan dan nilai perusahaan telekomunikasi dalam jangka panjang.
Proyeksi Pergerakan Saham Telekomunikasi
| Emiten | Kode | Rekomendasi | Harga Terakhir (28/7) | Target Harga (Rp) | Potensi Kenaikan | EV/EBITDA 2026F | EV/EBITDA 2027F |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Telkom Indonesia | TLKM | BUY | 2.560 | 3.200 | 21,7% | 3,6x | 3,2x |
| Indosat Ooredoo Hutchison | ISAT | BUY | 1.950 | 2.800 | 43,6% | 4,2x | 4,0x |
| XLSmart Telecom Sejahtera | EXCL | BUY | 2.440 | 4.300 | 78,4% | 5,1x | 4,5x |