Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wall Street Tertekan Saham Bank, Waswas Efek Silicon Valley Bank

Wall Street cenderung turun pada perdagangan awal pekan karena tertekan kekhawatiran meluasnya efek bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB).
Wall Street cenderung turun pada perdagangan awal pekan karena tertekan kekhawatiran meluasnya efek bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB). Bloomberg/Michael Nagle
Wall Street cenderung turun pada perdagangan awal pekan karena tertekan kekhawatiran meluasnya efek bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB). Bloomberg/Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA - Wall Street cenderung tertekan pada perdagangan awal pekan Senin (13/3/2023) karena tekanan saham bank. Investor khawatir tentang penularan dari keruntuhan Silicon Valley Bank (SVB).

Namun demikian, Nasdaq yang sarat emiten teknologi berhasil ditutup naik, karena kasus SVB memperbesar peluang The Fed menahan kenaikan suku bunga lanjutan.

Indeks Dow Jones Industrial Average tergelincir 90,5 poin atau 0,28 persen menjadi 31.819,14. Indeks S&P 500 kehilangan 5,83 poin atau 0,15 persen menjadi 3.855,76 poin. Indeks Komposit Nasdaq bertambah 49,96 poin atau 0,45 persen, menjadi ditutup pada 11.188,84 poin.

Sektor utilitas terangkat 1,54 persen sebagai salah satu yang berkinerja terbaik dari 11 sektor utama S&P 500, sementara kelompok yang sensitif terhadap suku bunga seperti real estat dan teknologi juga menguat.

Penutupan tiba-tiba SVB Financial pada Jumat (10/3/2023) setelah gagal meningkatkan modal membuat investor khawatir tentang risiko bank-bank lain dari kenaikan suku bunga Fed yang tajam selama setahun terakhir. Namun, banyak yang berspekulasi bank sentral sekarang bisa menjadi kurang hawkish, dan imbal hasil obligasi 2 tahun anjlok.

Regulator selama akhir pekan melakukan intervensi untuk mengembalikan kepercayaan investor pada sistem perbankan, dengan mengatakan deposan Silicon Valley Bank (SVB) akan memiliki akses ke dana mereka pada Senin (13/3/2023).

Bagi sebagian investor, keputusan The Fed minggu depan juga akan bergantung pada data inflasi yang akan dirilis minggu ini.

"Jika kita mendapatkan Indeks Harga Konsumen dan Indeks Harga Produsen yang sangat buruk, The Fed akan berada di posisi yang sulit atau posisi yang jauh lebih sulit bahkan di depan angka-angka tersebut," kata Orion Advisor Solutions CIO, Timothy Holland, mengutip Antara.

Data indeks harga konsumen (IHK) yang menjadi ukuran inflasi akan dirilis pada Selasa waktu setempat dan angka IHP pada Rabu (15/3/2023).

"Pasar sekarang memperkirakan bahwa Fed kemungkinan tidak menaikkan suku bunga bulan ini sehingga mereka dapat memasuki periode jeda," kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities.

Saham rekanan SVB, Signature Bank, yang juga ditutup oleh regulator dihentikan. Nasdaq mengatakan mereka akan tetap demikian sampai permintaan bursa untuk informasi tambahan "sepenuhnya terpenuhi."

Presiden Joe Biden berjanji untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk mengatasi ancaman terhadap sistem perbankan.

First Republic Bank terjun 61,83 persen karena berita pembiayaan baru gagal meyakinkan investor, sementara Western Alliance Bancorp dan PacWest Bancorp masing-masing tergelincir 47,06 persen dan 21,05 persen. Perdagangan saham dihentikan beberapa kali.

Membebani S&P 500, Charles Schwab anjlok 11,56 persen saat melanjutkan kembali perdagangan setelah perusahaan jasa keuangan tersebut melaporkan penurunan rata-rata margin sebesar 28 persen dan penurunan total aset klien sebesar 4,0 persen untuk Februari.

Saham bank-bank besar AS, termasuk JPMorgan Chase & Co, Citigroup, dan Wells Fargo semuanya melemah. Indeks Perbankan S&P jatuh 7,0 persen, persentase penurunan satu hari terbesar sejak 11 Juni 2020.

Para pedagang sekarang sebagian besar memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin dari Fed pada Maret, dengan taruhan bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada level mereka saat ini berdiri di 44,4 persen.

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan ada ekspektasi bahwa The Fed tidak akan menaikan suku bunga acuannya dengan agresif pada rapat mendatang karena peristiwa SVB.

“Kalau soal kekhawatiran pasar terhadap dampak buruk kebangkrutan SVB, sudah teratasi dengan kebijakan menjamin seluruh deposit nasabah SVB oleh regulator perbankan AS,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (13/3/2023).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Editor : Hafiyyan
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper