Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Katalis Harga CPO ke Level 4.500 Ringgit

Harga CPO bergerak dalam rentang 3.600 ringgit-4.500 ringgit per ton di tengah sejumlah sentimen positif.
Artha Adventy
Artha Adventy - Bisnis.com 25 Januari 2023  |  14:05 WIB
Katalis Harga CPO ke Level 4.500 Ringgit
Harga CPO bergerak dalam rentang 3.600 ringgit-4.500 ringgit per ton di tengah sejumlah sentimen positif. - The Edge Markets
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga Crude Palm Oil (CPO) diprediksi dapat menyentuh angka resistance 4.500 ringgit per ton seiring dengan peningkatan permintaan.

Sejumlah sentimen penggerak harga CPO pada kuartal I/2023 berasal dari pembukaan wilayah China, kebijakan biodiesel (B35), periode Ramadan, serta pengurangan impor minyak sawit oleh Eropa. Diperkirakan harga CPO bergerak dalam rentang 3.600 ringgit-4.500 ringgit per ton.

Pada perdagangan Rabu (25/1/2023) pukul 13.19 WIB, harga berada di kisaran 3.764 per ton, turun 3,29 persen atau 128 poin. Secara akumulasi, CPO telah turun 8,20 persen MoM atau 29,37 persen YoY.

Analis Tim Riset Indonesia Commodity and Derivatives Exchange Jonathan Octavianus menjelaskan faktor penggerak harga CPO pada kuartal I/2023 berasal dari pembukaan wilayah China, kebijakan biodiesel (B35), periode Ramadan, serta pengurangan impor minyak sawit oleh Eropa.

“China sebagai salah satu importir global CPO, pembukaan wilayah China menjadi angin segar pada peningkatan permintaan global, karena dengan pembukaan wilayah tersebut, aktivitas ekonomi negara tersebut. Namun meski demikian, China memiliki tradisi pulang kampung saat libur Imlek sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar akan angka kasus Covid-19,” katanya dalam acara Commodity Outlook Q1-2023 ICDX Group Research, Rabu (25/1/2023).

Mandat pemerintah Indonesia terkait biodiesel (B35) disebut Jonathan ikut mempengaruhi gerak CPO. Pencampuran bahan bakar nabati dan bahan bakar diesel dengan persentase minyak kelapa sawit sebanyak 35 persen dan solar sebanyak 65 persen menjadikan Indonesia menjadi negara paling tinggi dalam kebijakan biodiesel tersebut.

“Berdasarkan data dari asosiasi produsen biofuel Indonesia, kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel B30 di 2022 hanya sebesar 8,4 juta ton, jumlah ini hanya sekitar 16 persen dari total produksi minyak kelapa sawit nasional pada 2022 yang ditargetkan 52 juta ton,” jelasnya.

Dengan biodiesel B35 maka terdapat penambahan konsumsi sekitar 1,4 juta ton sehingga konsumsi nasional menjadi 9,8 juta ton. Implementasi tersebut diperkirakan akan mengubah penawaran dan permintaan pasar global.

Faktor selanjutnya adalah periode Ramadan yang semakin dekat, dimana hal itu akan meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit dari dalam negeri maupun Malaysia.

“Pengurangan impor minyak sawit oleh eropa terkait dengan regulasi rantai pasokan bebas deforestasi pada Desember 2022. Aturan ini melarang penjualan komoditas berbasis perkebunan yang menyebabkan deforestasi,” katanya.

UU Uni Eropa yang baru itu disebut akan mengatur penjualan CPO secara ketat sebagai upaya untuk melindungi hutan. Pengecualian diberikan jika produsen CPO dapat menunjukkan komoditas tersebut tidak andil dalam perusakan hutan.

Sebagai informasi, sepanjang Januari hingga November 2022, Uni Eropa menyerap CPO Indonesia dan Malaysia sebesar 3 juta ton dengan pembagian CPO Malaysia sebesar 1,3 juta ton, sedangkan CPO Indonesia sebanyak 1,7 juta ton.

“Hal ini dapat mendorong harga CPO lebih lanjut jika Indonesia dan Malaysia dapat mengalihkan stok Eropa tersebut ke pemenuhan China dan India,” imbuh Jonathan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga cpo cpo komoditas Biodiesel
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top