Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PREMIUM WRAP-UP: Sosok Pengendali Akhir Indomaret & Karpet Merah Kongsi Gojek-TOBA

Pengumuman dari Indoritel Makmur Internasional (DNET) bahwa mereka bukan pengendali akhir Indomaret seiring penjelasan mengenai tidak adanya penimbunan minyak goreng membuat publik bertanya. Siapa pengendali akhir jaringan ritel Indomaret, salah satu yang terbesar di Indonesia itu?
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  23:18 WIB
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kedua kanan) berbincang dengan Direktur Thomas Tjhie (dari kiri), Direktur Axton Salim dan Direktur Franciscus Welirang, usai RUPST dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kedua kanan) berbincang dengan Direktur Thomas Tjhie (dari kiri), Direktur Axton Salim dan Direktur Franciscus Welirang, usai RUPST dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Jaringan bisnis Indomaret hanya menjadi entitas asosiasi dalam perusahaan terbuka Indoritel (DNET). Atas posisi itu banyak investor bertanya-tanya siapakah crazy rich yang mengendalikan salah satu jaringan ritel modern terbesar di Indonesia ini. 

1. Bukan Hanya DNET, Ini Para Crazy Rich Pengendali Indomaret di Tengah Heboh Minyak Goreng

Bantahan jaringan ritel modern Indomaret bahwa perusahaan tidak menimbun minyak goreng, tidak serta merta membuat publik reda. Isu minyak goreng itu masih terus dibahas baik di media sosial Twitter atapun platform lain seperti Tiktok dan Instagram. 

PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. (DNET) yang terasosiasi dengan crazy rich Salim Group menegaskan itu. Bahwa penyimpanan sesuai peruntukan. Namun, surat yang sama menggarisbawahi DNET tidak memiliki kendali terhadap kebijakan Indomaret. Hal tersebut mereka sampaikan dalam keterangan kepada otoritas bursa yang berisi penegasan bantahan terhadap dugaan penimbunan yang terjadi.

Lalu siapakah crazy rich yang memiliki perusahaan ini? cek di sini. 

2. Sarankan Unilever (UNVR) Delisting Sukarela, Siapa Nilzon Capital?

Performa lesu bisnis PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang tak kunjung menemui titik terang bikin investor ketar-ketir. Berbagai saran pun muncul, salah satunya dari Nilzon Capital yang merekomendasikan perusahaan itu untuk go-private saja.

Dalam riset sepanjang 44 halaman, Nilzon membeberkan pertimbangan apa saja yang menjadi landasan atas saran tersebut.

Riset Nilzon soal saran go-private Unilever cukup menyita perhatian. Ulasan Bisnis soal riset tersebut juga cukup banyak dibaca oleh para pengakses Bisnis.com.

Manajemen UNVR, bahkan sampai ikut bereaksi dengan publikasi tersebut. Mereka sempat melakukan klarifikasi, meski menyatakan bahwa perseroan menghormati pendapat semua pihak.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan baru. Siapa sebenarnya Nilzon Capital?

Pembahasan tentang profil penasihat investasi tersebut dapat Anda baca di sini.

3. Karpet Merah Bagi TOBA untuk Wujudkan Ambisi Energi Terbarukan

Kemarin, Electrum yang merupakan kongsi Gojek-TOBA akhirnya memperluas kemitraannya lewat kerja sama dengan produsen motor listrik terafiliasi BUMN, Gesits.

Kerja sama tersebut berpotensi membuat kongsi Gojek-TOBA mendapat “akses spesial.” Apalagi, Gesits merupakan perusahaan motor listrik yang kerap dibangga-banggakan Kementerian BUMN.

Nyatanya, tidak lama Presiden Jokowi juga mengeluarkan serentetan pernyataan yang bernada dukungan terhadap ekosistem motor listrik. Jokowi juga sempat sesumbar mengatakan bahwa nantinya ibu kota negara yang baru akan menjadikan kendaraan listrik sebagai prioritas alat transportasi yang diizinkan melantai di jalan.

Gambaran lebih soal karpet merah untuk kongsi Gojek-TOBA dapat dibaca di sini.

 

4 Kasak-kusuk Akulaku Mencuil Bisnis Motor Listrik

Selama ini, perusahaan pinjaman online termasuk buy now pay later (BNPL) kerap disorot lantaran minimnya partisipasi terhadap pendanaan berkelanjutan atau kredit hijau. Namun, stigma tersebut ingin coba dibenahi oleh PT Akulaku Finance Indonesia yang memabwahi platform kredit konsumtif Akulaku.

Menurut Presiden Direktur Akulaku Efrinal Sinaga, saat ini perusahaannya tengah mengkaji kemungkinan penyaluran layanan kredit khusus kendaraan listrik.

Nantinya, layanan tersebut dipercaya Efrinal bisa menjadi tonggak bagi pendanaan lebih berkelanjutan oleh industri tekfin dalam negeri.

Keterangan lebih lanjut mengenai kasak-kusuk yang dimaksud Efrinal dapat Anda baca di artikel berikut.

5. Saran untuk Unilever (UNVR) Guna 'Selamatkan' Investor Publik, Saatnya Go-Private?

Sejak awal 2018 hingga hari ini, bila diakumulasi performa saham UNVR memang mengkhawatirkan. Bahkan cenderung berkebalikan dibandingkan tren performa IHSG setelah melewati pasang surut pandemi Covid-19.

“Sebagian analis dan investor tidak senang dengan fundamentalnya, boro-boro prospeknya,” tulis riset tersebut.

Pembahasan selengkapnya tentang rekomendasi go-private UNVR dapat Anda baca di artikel ini.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG rekomendasi saham
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top