Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

IHSG Tertekan Pada Sesi I, Saham BBCA, TLKM, dan ARTO Tetap Jadi Incaran Asing

Pada pukul 11.30 WIB IHSG parkir pada posisi 6.609,67 atau turun 0,79 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 Januari 2022  |  11:36 WIB
Pegawai melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/1/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha
Pegawai melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/1/2021). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau melemah pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis (6/1/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 11.30 WIB IHSG parkir pada posisi 6.609,67 atau turun 0,79 persen. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak pada rentang 6.593,22 - 6.679,85.

Tercatat, 124 saham menguat, 394 saham melemah dan 146 saham bergerak di tempat. Investor asing tercatat masih membukukan aksi net foreign buy Rp285 miliar.

Investor asing tercatat membeli saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp98,8 miliar, atau yang terbanyak sejauh ini. Menyusul dibelakangnya adalah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) senilai Rp35,2 miliar dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) sebesar Rp28,2 miliar.

Sebelumnya, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, sektor teknologi, properti, transportasi dan logistik, consumer cyclicals, industrials, infrastruktur, energi, konsumer non-siklus, dan kesehatan mendominasi penurunan IHSG kemarin. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar Rp802 miliar.

Berdasarkan analisa teknikal, Nico melihat IHSG berpeluang melemah dan diperdagangkan di level 6.621-6.720.

Saham yang menjadi rekomendasi Pilarmas Investindo Sekuritas hari ini adalah EXCL dan WTON.

Lebih lanjut, menurut Nico sentimen datang dari pejabat The Fed yang telah bersiap untuk membuat beberapa kebijakan untuk mulai mendukung menyusutkan neraca, setelah The Fed menaikkan tingkat suku bunga.

"Hal ini sebagai bagian dari sikap The Fed melawan inflasi yang lebih agresif," kata Nico dalam risetnya, Kamis (6/1/2022).

Dia melanjutkan, pertemuan The Fed pada bulan Januari ini akan menjadi salah satu poin terpenting bagi pelaku pasar dan investor, terkait dengan rencana yang lebih pasti dengan kenaikkan tingkat suku bunga.

Apabila The Fed akan menaikkan tingkat suku bunga pada bulan Maret mendatang, menurutnya ada kemungkinan Bank Indonesia akan melakukan hal yang sama atau selangkah lebih maju.

"Artinya BI akan menaikkan tingkat suku bunga lebih awal daripada The Fed. Namun, ini semua masih membutuhkan konfirmasi pada pertemuan The Fed pada bulan ini," tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top