Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Siap-siap, Harga CPO Berpeluang Tembus 4.000 Ringgit Per Ton!

Harga CPO berjangka kontrak pengiriman bulan April 2021 terpantau naik 38 poin ke 4.012 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 4.062 ringgit per ton.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 09 Maret 2021  |  16:31 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Peluang penguatan lebih lanjut untuk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) masih terbuka lebar seiring dengan masih terganggunya produksi di beberapa sentra produksi. 

Berdasarkan data dari Bursa Malaysia pada Selasa (9/3/2021), harga CPO untuk kontrak Mei 2021 sempat mencapai harga tertinggi pada 3.954 ringgit per ton sebelum tiba di harga settlement 3.878 ringgit per ton. Level itu sekaligus mencatatkan penguatan harian tertinggi sejak 2011 lalu.

Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman bulan April 2021 terpantau naik 38 poin ke 4.012 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 4.062 ringgit per ton.

Terkait dengan hal tersebut, Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen pendukung kenaikan harga CPO adalah serangan yang terjadi pada salah satu kilang minyak di Arab Saudi.

"Selain memanaskan harga minyak mentah, sentimen ini juga memiliki efek positif untuk harga CPO," katanya.

Dia melanjutkan, kenaikan harga biji kedelai sebagai substitusi terdekat CPO juga turut membantu penguatan harga minyak kelapa sawit.

Ibrahim memaparkan, jumlah pasokan biji kedelai global saat ini tidak dapat mengimbangi tingginya permintaan global. Proses penanaman di negara-negara seperti Brasil dan Argentina tersendat akibat cuaca hujan berkepanjangan.

Sementara itu, Amerika Serikat yang menjadi eksportir kedelai terbesar kedua di dunia belum dapat memulai proses penanaman baru. Pasalnya, cuaca dingin yang masih terjadi membuat proses ini tidak memungkinkan terjadi.

Di sisi lain, kabar lolosnya kesepakatan perdagangan bebas antara Indonesia dengan Swiss untuk ekspor kelapa sawit turut menggairahkan pasar.

Ibrahim melanjutkan, peluang penguatan harga CPO lebih lanjut masih terbuka. Hal ini salah satunya didorong oleh rencana pemerintah Indonesia kembali mengembangkan bahan bakar biodiesel B30.

Selain itu, prospek tersebut juga diikuti oleh sentimen cuaca hujan yang akan dihadapi Indonesia dan Malaysia sebagai eksportir utama CPO.

Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, cuaca hujan badai diperkirakan akan menyelimuti wilayah Kalimantan dan Sumatera yang merupakan produsen utama CPO di Indonesia.

Sementara itu, Departemen Meteorologi Malaysia menyebutkan, cuaca hujan dan angin kencang akan melanda wilayah Sabah dan Sarawak pada pekan ini. Sabah dan Sarawak merupakan daerah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Malaysia.

"Gangguan cuaca ini akan menyebabkan proses panen raya terhambat. Sehingga, proses transportasi dan distribusi CPO juga akan turut tersendat," jelasnya.

Ibrahim memprediksi, pergerakan harga CPO hingga semester I/2021 akan berada di kisaran 3.600 hingga 4.000 ringgit per ton. Menurutnya, setelah menyentuh level 4.000 ringgit per ton, harga CPO akan mulai terkoreksi.

"Penurunan terjadi seiring pergantian musim di wilayah Eropa dan AS yang memungkinkan mereka kembali menanam biji kedelai. Penurunan harga akibat penambahan pasokan ini juga akan dirasakan di negara-negara penghasil CPO," ujarnya.

Analis CGS-CIMB Futures Ivy Ng dan Nagulan Ravi dalam laporannya menyebutkan, reli harga CPO didasari oleh ekspektasi pasar terhadap kenaikan permintaan. Hal ini juga didorong oleh menguatnya harga minyak mentah dan biji kedelai yang semakin meningkatkan daya tarik CPO dalam pengolahan makanan dan bahan bakar.

"Pasar memandang bahwa ekspor minyak kelapa sawit akan meningkat pada Maret ini karena usaha penimbunan stok untuk menghadapi bulan Ramadan," demikian kutipan laporan tersebut.

Ng dan Ravi juga memperkirakan jumlah stok minyak kelapa sawit Malaysia pada Februari akan naik 7,6 persen secara month-on-month, tetapi turun 16,2 persen secara year-on-year (yoy).

Perkiraan tersebut sedikit menyimpang dari tren historis persediaan CPO Malaysia yang umumnya hanya terkoreksi sekitar 3 persen pada bulan Februari. Menurut Ng dan Ravi, penyimpangan tersebut disebabkan oleh pembatasan permintaan oleh para konsumen serta perpindahan pembelian CPO ke Indonesia.

Ng dan Ravi memprediksi harga CPO akan diperdagangkan pada kisaran 3.200 hingga 3.700 ringgit per ton pada Maret 2021. Hal ini utamanya ditopang oleh penurunan stok CPO Malaysia yang memerlukan waktu untuk kembali pulih.

Jumlah pasokan tersebut diperkirakan baru akan pulih pada kuartal II/2021 mendatang. Adapun outlook harga CGS-CIMB untuk CPO adalah 2.900 ringgit per ton pada 2021 dan 2.700 ringgit per ton untuk 2022 mendatang.

"Kami masih memasang posisi netral untuk harga CPO," demikian kutipan laporan tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo kedelai malaysia minyak sawit harga cpo
Editor : Yustinus Andri DP

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top