Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lanjutkan Reli Februari, Harga CPO Tembus 3.900 Ringgit

Harga CPO berjangka kontrak pengiriman bulan April 2021 terpantau naik 46 poin ke 3.920 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 3.966 ringgit per ton.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 01 Maret 2021  |  16:34 WIB
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P
Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Badan Litbang Kementerian ESDM memulai kajian kelayakan pemanfaatan minyak nabati murni (crude palm oil/CPO) untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) hingga Desember 2020. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) melanjutkan reli positifnya dan telah menembus level 3.800 ringgit per ton.

Berdasarkan data dari Bursa Malaysia pada Senin (1/3/2021), harga CPO harga CPO untuk kontrak Mei 2021 sempat mencapai harga tertinggi pada 3.819 ringgit per ton sebelum tiba di harga setelmen 3.742 ringgit per ton atau naik 46 poin.

Sementara itu, harga CPO berjangka kontrak pengiriman bulan April 2021 terpantau naik 46 poin ke 3.920 ringgit per ton setelah sempat mencapai titik tertingginya pada 3.966 ringgit per ton.

Salah satu penopang kenaikan harga adalah persediaan CPO yang diprediksi akan tetap rendah sepanjang 2021. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) menyebutkan, akibat cuaca yang buruk dan keterbatasan tenaga kerja, output CPO dari Malaysia dan Indonesia mengalami penurunan signifikan.

Deputy Director MPOC Faisal Iqbal menuturkan, hal tersebut memicu jumlah persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia mencapai titik terendahnya dalam 13 tahun di level 1,27 juta ton.

Iqbal menuturkan, produksi CPO pada tahun ini akan mengalami kenaikan. Meski demikian, pihaknya memperkirakan pertumbuhan jumlah stok CPO tidak akan besar seiring dengan ekspektasi pemulihan ekspor.

“Kami mempediksi stok CPO bulanan Malaysia pada tahun ini berada dibawah 1,5 juta ton. Sentimen ini menjadi bahan bakar untuk harga yang lebih tinggi sepanjang tahun 2021,” jelasnya.

MPOC memproyeksikan jumlah produksi CPO Malaysia pada tahun ini akan naik menjadi 19,6 juta ton dari sebelumnya 19,1 juta ton.

Terkait hal tersebut, Trader Sprint Exim Pte., Rajesh Modi mengatakan, jumlah cadangan CPO tersebut masih dalam kategori rendah. Hal ini masih akan mendorong sentimen bullish bagi CPO yang akan semakin melambungkan harga komoditas ini.

“Pasar akan tetap bullish hingga kenaikan angka produksi terjadi, dan hal ini belum akan terjadi sebelum paruh kedua bulan Maret,” katanya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, dikutip dari laman resminya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan produksi CPO di tahun 2021 naik 3,5 persen secara year-on-year (yoy) menjadi 49 juta ton dari realisasi tahun lalu sebanyak 47,4 juta ton.

“Kenaikan produksi didukung oleh pemeliharaan kebun yang baik, cuaca yang mendukung, serta harga yang menarik,” demikian kutipan laporan tersebut.

Pada tahun 2021, pemerintah Indonesia menargetkan penyaluran biodiesel B30 menjadi 9,2 juta kilo liter. Dengan skenario pemerintah melanjutkan program B30, GAPKI mengharapkan adanya kenaikan permintaan sebesar 12 persen (yoy) menjadi 8 juta ton.

Apabila menggunakan skenario tersebut, maka stok akhir tahun di Indonesia akan mencapai 7 juta ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo gapki harga cpo
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top