Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Duh, Rupiah Diramal Loyo Lagi Senin Nanti!

Berdasarkan data Bloomberg, pada akhir pekan lalu, Jumat (20/11/2020), mata uang Garuda ditutup di level Rp14.165 per dolar AS setelah melemah 10 poin atau 0,07 persen dari posisi hari sebelumnya.rn 
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 22 November 2020  |  11:02 WIB
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diproyeksi bakal melanjutkan pelemahannya di perdagangan awal pekan, Senin (23/11/2020).
 
Berdasarkan data Bloomberg, pada akhir pekan lalu, Jumat (20/11/2020), mata uang Garuda ditutup di level Rp14.165 per dolar AS setelah melemah 10 poin atau 0,07 persen dari posisi hari sebelumnya.
 
Sementara itu di hari yang sama kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ada di level Rp14.228 per dolar AS, juga melemah dibandingkan hari sebelumnya di level Rp14.167 per dolar AS.

Di sisi lain, dolar AS tengah bergerak dalam mode agresif. Index mata uang greenback di pasar spot tercatat parkir di level 92,39 dengan penguatan 0,09 poin atau 0,11 persen.
 
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan secara internal, pelemahan rupiah akibat respons negatif pasar atas keputusan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen.
 
Sebab, akhir pekan lalu mayoritas mata uang Asia lainnya menguat, dipimpin won Korea Selatan dengan penguatan 1,02 persen. Sementara lainnya terapresiasi tipis seperti rupee India 0,17 persen, peso Filipina 0,08 persen, baht Thailand 0,04 persen, yuan China 0,008 persen, dan ringgit Malaysia 0,005 persen.

Menurut Ibrahim, keputusan BI menurunkan suku bunga di luar dugaan pasar karena para analis memperkirakan BI masih akan mempertahankan suku bunga acuan bulan ini dan baru akan memangkas 7DRRR pada Desember mendatang.
 
 “Waktu yang tepat untuk menurunkan suku bunga sebenarnya di Desember, bukan November  di mana secara bersamaan Bank Sentral Global seperti The Fed, ECB dan BoE akan bersama-sama menurunkan suku bunga,” tuturnya dalam riset harian, seperti dikutip Bisnis, Minggu (22/11/2020)
 
Selain itu, ditambah kekecewaan pasar atas kabar mengenai kemungkinan proses vaksinasi massal di Indonesia mundur dari jadwal yang sebelumnya disebut pemerintah karena vaksin masih belum tersedia hingga saat ini.

“Wajar kalau mata uang Garuda melemah dalam perdagangan penutupan akhir pekan walaupun ada kabar baik di mana Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal III/2020 surplus sebesar US$2,1 miliar,” imbuhnya.
 
Adapun untuk perdagangan Senin (23/11/2020), dia memprediksi nilai tukar rupiah kemungkinan akan dibuka fluktuatif. Namun mata uang Garuda diramalkan akan loyo sehingga berpotensi ditutup melemah.
 
“Sekitar sebesar 10-100 poin  di level 14.135—14.180,” tutup Ibrahim.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top