Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rebound IHSG Bakal Berlanjut pada November, Ini Sentimennya

Kondisi pasar modal pada bulan November akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, di antaranya kinerja emiten pada kuartal III/2020 dan perkembangan kondisi eknomi global.
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks harga saham gabungan diperkirakan akan melanjutkan penguatan sampai dengan akhir tahun ini meski harus membuktikan ketangguhanya untuk melawan riwayat koreksi pada November 2020.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) menutup sesi perdagangan Oktober dengan koreksi 0,31 persen ke level 5.128,225 pada Selasa (27/10/2020). Secara year to date, pergerakan masih terkoreksi 18,59 persen dengan total net sell atau jual bersih investor asing Rp47,299 triliun.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan IHSG masih terkoreksi sekitar 18 persen sepanjang periode berjalan 2020 yang berakhir Oktober 2020. Namun, menurutnya pasar modal Indonesia telah bangkit dari titik terendah pada Maret 2020.

“Kalau sejak IHSG terendah 24 Maret 2020 ya kita sudah lumayan pulih. Kita terendah IHSG 3.937,” ujarnya kepada Bisnis, Minggu (1/11/2020).

Inarno menilai kondisi yang terjadi di bursa Amerika Serikat (AS) dan Eropa akan berpengaruh terhadap perdagangan perdana November 2020. Menurutnya, kejatuhan indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) akan berpengaruh ke seluruh negara.

Dia menyebut pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) akan berlangsung dalam waktu dekat. Agenda itu menurutnya akan berpengaruh terhadap pasar modal.

“Kita tunggu election sebentar lagi kan, biasanya ada euforia, Dow akan perkasa,” ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan kondisi pasar modal pada November 2020 akan bergantung terhadap sejumlah faktor. Salah satunya kondisi emiten yang tecermin dari laporan keuangan kuartal III/2020.

Kondisi global, lanjut dia, juga akan berpengaruh terhadap pergerakan pasar modal di dalam negeri. Faktor eksternal menurutnya akan mempengaruhi keputusan investasi investor asing.

“Jika secara makro investor yakin, tentunya November 2020 diharapkan market juga akan bergerak positif sebagaimana kinerja Oktober 2020,” paparnya.

Sementara itu, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo mengungkapkan November biasanya menjadi periode yang cukup menantang bagi pasar modal Indonesia dalam 20 tahun terakhir. Akan tetapi, kondisi setelah akan diikuti oleh Desember yang tidak pernah mengalami penurunan dalam 20 tahun.

“Jika melihat dari data yang ada, investor akan memiliki return yang baik jika mulai membeli saham pada November karena secara siklus November—April adalah waktu terbaik untuk memegang saham karena saham cenderung outperform di siklus ini,” ujarnya.

Frankie menggarisbawahi ada tiga sentimen yang akan paling berpengaruh terhadap IHSG pada November 2020. Salah satunya Pilpres AS.

Kedua kandidat Presiden AS, lanjut dia, memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Donald Trump dengan kebijakan membangun infrastruktur dan menurunkan pajak dapat dikatakan lebih memihak terhadap pasar.

Kendati demikian, Trump kerap mengeluarkan pernyataan kontroversial lewat sosial media yang menyebabkan keadaan geopolitik dan pasar kurang stabil. Sebaliknya, kemenangan Joe Biden juga tidak berarti buruk terhadap pasar.

“[Kemenangan Biden] akan memberikan kestabilan dan kepastian yang lebih baik yang diharapkan oleh pasar,” paparnya.

Di sisi lain, Frankie menyebut tren kasus Covid-19 dan ketersediaan vaksin juga menjadi berpengaruh terhadap pergerakan IHSG pada November 2020. Selain itu, pelaku pasar juga masih mencermati pertumbuhan ekonomi Indonesia dan laporan laba perusahaan.

“Target IHSG sampai akhir tahun adalah di level 5.340,” imbuhnya. Sementara itu, Head of Research PT Panin Sekuritas Tbk. Nico Laurens menilai kinerja keuangan sejumlah emiten pada kuartal III/2020 di atas estimasi. Pencapain itu mampu diraih perusahaan tercatat di sektor seperti perbankan, komoditas, serta otomotif.

“Kami masih positif ya sampai akhir tahun IHSG target 5.364,” jelasnya.

Nico mengatakan investor tengah memantau perkembangan Pilpres AS. Selain itu, kehadiran vaksin serta realisasi bujet pemerintah juga menjadi sorotan.

“Tetapi, secara keseluruhan komoditas sudah lumayan reli sehingga ini positif untuk Indonesia,” paparnya.

Di lain pihak, Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan pergerakan IHSG masih mixed pada November 2020 antara probabilitas naik dan turun. Namun, hampir dapat dipastikan kenaikan terjadi untuk Desember dengan probabilitas 90 persen dalam 10 tahun atau belasan tahun terakhir.

“Faktor positif adalah jika laporan keuangan kuartal III/2020 yang akan keluar dalam minggu-minggu ini. Jika lebih baik dari ekspektasi, sentimen akan positif dan sebaliknya,” imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper