Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham MDKA Anjlok 5,56 Persen, Ini Rekomendasi Analis

Pelemahan terjadi setelah manajemen melaporkan insiden di Tambang Bukit Tujuh, Banyuwangi, pada Sabtu (12/9/2020), yaitu ditemukannya keretakan pada heap leach pad.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 16 September 2020  |  16:02 WIB
Kondisi hutan Tumpang Pitu Banyuwangi yang menjadi area konsensi tambang emas oleh PT Bumi Suksesindo yang merupakan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). JIBI - Bisnis/Peni Widarti
Kondisi hutan Tumpang Pitu Banyuwangi yang menjadi area konsensi tambang emas oleh PT Bumi Suksesindo yang merupakan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA). JIBI - Bisnis/Peni Widarti

Bisnis.com, JAKARTA – Harga saham emiten pertambangan mineral, PT Merdeka Copper Gold Tbk., terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Rabu (16/9/2020).

Padahal, emiten bersandi saham MDKA itu menjadi salah satu top picks investor pada tahun ini sejalan dengan kenaikan harga emas global.

Berdasarkan data Bloomberg, saham MDKA parkir di level Rp1.530, terkoreksi 5,56 persen atau 90 poin. Adapun, saham dibuka di level Rp1.550, padahal pada penutupan perdagangan sebelumnya berada di level Rp1.620.

Sepanjang perdagangan, MDKA bergerak di kisaran Rp1.530 hingga Rp1.575. Dengan penurunan tajam hari ini, harga saham MDKA sudah turun 7,27 persen dalam sepekan.

Sementara itu, sepanjang tahun berjalan MDKA telah menguat 42,99 persen, menjadi salah satu saham penghuni jajaran top gainers secara year to date. Bahkan, kapitalisasi pasar MDKA sempat menjadi pemimpin di antara saham-saham tambang lainnya, mengalahkan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) hingga PT Adaro Energy Tbk. (ADRO).

Pelemahan terjadi setelah manajemen melaporkan insiden di Tambang Bukit Tujuh, Banyuwangi yang dikelola oleh anak usaha perseroan.

Untuk diketahui, terjadi peristiwa tidak terduga pada salah satu proyek perseroan di tambang Tujuh Bukit Banyuwangi pada Sabtu (12/9/2020), yaitu ditemukannya keretakan pada heap leach pad.

Keretakan itu membuat sebagian dari bijih emas yang ditumpuk pada bagian depan mengalami penurunan muka sehingga pergerakan material tersebut menyebabkan kerusakan terhadap pipa dan pompa heap leach operation.

Karyawan dan peralatan berat di sekitar heap leach pad telah dievakuasi sebagai upaya pencegahan. Selain itu, pekerjaan irigasi di area heap leach pad pun langsung dihentikan sementara dan perseroan tengah menyusun rencana perbaikan.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Tri Boewono menegaskan bahwa tidak ada produksi emas yang hilang tetapi hanya tertunda hingga proses perbaikan selesai. Dia juga menjelaskan bahwa peristiwa itu tidak berdampak pada rencana pengeboran dan studi proyek tembaga di Tambang Tujuh Bukit.

“Dampak yang baru bisa diinformasikan saat ini adalah, tidak ada kehilangan emas, namun tentunya selama proses perbaikan berjalan berdampak pada produksi dan arus kas dari tambang tujuh bukit terkait, dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya,” ujar Tri saat public expose, Selasa (15/9/2020).

Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu mengatakan bahwa pelemahan saham MDKA saat ini sebagian besar merupakan respon pasar terkait insiden tersebut.

Dessy menjelaskan bahwa insiden itu dapat memperlambat produksi karena akan ada proses perbaikan konstruksi sehingga target produksi hingga akhir tahun bisa di bawah target.

“Kedua, perbaikan konstruksi tambang tersebut dapat menyerap alokasi capex semester II/2020 yang awalnya difokuskan untuk mendorong produksi,” ujar Dessy kepada Bisnis, Rabu (16/9/2020).

Adapun, Dessy merekomendasikan hold untuk saham MDKA dengan target price di level Rp1.600.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham merdeka copper
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top