Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Volume Distribusi Gas PGN (PGAS) Diproyeksi Turun

Analis Ciptadana Sekuritas Arif Budiman memperkirakan volume distribusi gas emiten berkode saham PGAS itu hanya akan mencapai 720 Billion British Thermal Unit Per Day (BBTUD) pada periode Juni.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 16 Juli 2020  |  17:54 WIB
Fasilitas terminal dan pengelolaan gas terapung (Floating Storage and Regasification/FSRU) gas alam cair (LNG) Lampung PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Istimewa - PGN
Fasilitas terminal dan pengelolaan gas terapung (Floating Storage and Regasification/FSRU) gas alam cair (LNG) Lampung PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Istimewa - PGN

Bisnis.com, JAKARTA - Volume distribusi gas emiten minyak dan gas, PT Perusahaan Gas Negara Tbk., diproyeksi masih dalam jalur penurunan seiring dengan pandemi Covid-19 yang belum mereda.

Analis Ciptadana Sekuritas Arif Budiman memperkirakan volume distribusi gas emiten berkode saham PGAS itu hanya akan mencapai 720 Billion British Thermal Unit Per Day (BBTUD) pada periode Juni.

Adapun, perkiraan itu berada di level lebih tinggi daripada Mei 2020 di posisi 664 BBTUD, tetapi masih rendah dibandingkan dengan realisasi April 2020 di posisi 804 BBTUD.

Dengan demikian , volume distribusi pada kuartal II/2020 PGAS diproyeksi turun sekitar 15 persen dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yan mencapai 882 BBTUD.

“Kami percaya penurunan volume ini disebabkan oleh permintaan yang lebih lemah yang karena penerapan pembatasan sosial skala besar (PSBB) yang lebih ketat sejak April untuk membatasi penyebaran Covid-19,” tulis Arif seperti dikutip dari publikasi risetnya, Kamis (16/7/2020).

Selain itu, proyeksi penurunan volume distribusi juga seiring dengan perusahaan listrik negara (PLN) yang mengajukan pemberitahuan force majeure kepada PGAS untuk mengurangi penyerapan volume gas di bawah komitmen volume minimum pada awal April.

Permintaan itu pun diikuti oleh beberapa pelanggan industri lainnya untuk mengurangi penyerapan volume gas minimum.

Dari itu, Arif juga memproyeksi pendapatan PGAS di lini distribusi gas akan turun 14 persen secara kuartalan menjadi sekitar US$589 juta, sedangkan pendapatan dari lini bisnis lainnya, yaitu penjualan minyak dan gas, fiber optic, dan transmisi gas bakal turun 20 persen secara kuartalan ke posisi US$145 juta.

Laba bersih PGAS untuk kuartal II/2020 juga diyakini turun hingga 52 persen secara kuartalan ke level US$23 juta.

Kendati demikian, Arif memproyeksikan laba bersih perseroan sepanjang semester I/2020 dapat mencatatkan pertumbuhan hingga 31 persen secara year on year ke level US$71 juta.

“Tetapi, kami percaya laba bersih akan menurun lebih lanjut pada semester II/2020 karena pendapatan dan margin yang lebih rendah sebagai dampak dari implementasi harga gas baru US$ 6 per mmbtu,” papar Arif.

Sementara itu, Analis NH Korindo Sekuritas Meilki Darmawan mengatakan bahwa volume distribusi gas oleh emiten pelat merah itu untuk periode Mei dan Juni akan turun 8 hingga 10 persen dari bulan sebelumnya.

Hal itu mempertimbangkan aktivitas bisnis yang melemah dibandingkan dengan tahun lalu akibat hambatan pada proses ekspansi seperti pembangunan infrastruktur pipa.

Dengan demikian, kinerja keuangan PGAS masih akan dalam tekanan, apalagi dengan adanya proyeksi penurunan margin akibat implementasi harga gas untuk beberapa industri di level US$6 per mmbtu.

“Namun, kami optimistis volume distribusi akan kembali meningkat signifikan sekiat 4 hingga 6 persen pada 2021,” ujar Meilki seperti dikutip dari risetnya, Kamis (16/7/2020).

Di sisi lain, dengan proyeksi penurunan tersebut, kedua analis itu masih mempertahankan rekomendasi beli terhadap PGAS.

Arif menaikkan target price PGAS menjadi Rp1.400 per saham daripada sebelumnya di posisi Rp1.398 per saham. Target price itu pun menunjukkan kenaikan potensial saham sekitar 23 persen.

Tidak berbeda, Meilki juga memberikan target price di level Rp1.400 per saham. Pada penutupan perdagangan Kamis (16/7/2020), saham PGAS naik 0,43 persen ke level Rp1.160 per saham. Sepanjang tahun berjalan 2020, saham PGAS itu telah terkoreksi 46,54 persen.

Adapun, Bisnis telah mencoba menghubungi manajemen Perusahaan Gas Negara, tetapi hingga berita ini ditayangkan belum mendapatkan tanggapan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pgas
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top