Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

HSBC Janjikan Lebih Banyak Investasi di China

HSBC mengumumkan layanan baru untuk menyediakan perencanaan keuangan dan investasi digital bagi nasabah di China.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 Juli 2020  |  14:04 WIB
Kantor pusat HSBC. - hsbc.com
Kantor pusat HSBC. - hsbc.com

Bisnis.com, JAKARTA – HSBC Holdings Plc berjanji meningkatkan investasi di China guna menjaring lebih banyak klien ritel. Hal ini dilakukan bahkan ketika ketegangan politik meningkat setelah Beijing mengesahkan undang-undang keamanan di Hong Kong.

Bank yang mendapat kecaman atas dukungannya terhadap undang-undang tersebut pada Jumat (3/7/2020) mengumumkan pihaknya memulai layanan baru untuk menyediakan perencanaan keuangan dan investasi digital bagi nasabah di China.

Sebagai tahap awal, layanan ini akan mencakup pelanggan baru di Guangzhou dan Shanghai. Bank juga mendirikan perusahaan fintech untuk mendukung bisnisnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan politik, kelas menengah dan atas China yang berkembang pesat masih menjadi target utama bagi raksasa perbankan di seluruh dunia. Kelompok ini mewakili sekitar 90 triliun yuan (US$12,7 triliun) aset yang dapat diinvestasikan.

Perusahaan mulai dari UBS Group AG, Nomura Holdings Inc., dan Credit Suisse Group AG menjadikan manajemen keuangan sebagai fokus utama untuk bisnis di China di tengah pembukaan kembali pasar.

“Investasi baru ini menandai upaya berkesinambungan HSBC untuk menangkap peluang pertumbuhan tinggi di Asia, khususnya di China yang memiliki prospek yang tinggi dan merupakan salah satu pasar asuransi terbesar di dunia,” kata kepala pengeloaan keuangan HSBC di Asia-Pacific, Greg Hingston, seperti dikutip Bloomberg.

HSBC yang berbasis di London tengah menghadapi tantangan politik dalam upayanya untuk mengembangkan bisnis di China. Bulan lalu, HSBC menyatakan dukungannya terhadap undang-undang keamanan baru China dan sekarang sedang menuai kritik lebih lanjut.

Senat AS pada hari Kamis memberikan persetujuan akhir untuk undang-undang yang akan menjatuhkan sanksi pada pejabat China yang menindak perbedaan pendapat di Hong Kong. Undang-undang ini juga mengatur sanksi terhadap lembaga keuangan yang bekerja dengan pejabat China untuk mencampuri urusan Hong Kong. RUU tersebut tinggal menunggu persetujuan Presiden Donald Trump.

Meskipun pihak berwenang di Beijing bergerak untuk memadamkan perbedaan pendapat, mereka juga membuka lebih banyak bisnis di Hong Kong. People's Bank of China mengumumkan awal dari program yang disebut Wealth Management Connect pada awal Juni. Program ini akan membuat investor di Hong Kong, Makau, dan China dapat berinvestasi lintas batas.

Dorongan HSBC untuk klien-klien kaya selaras dengan rencana CEO Noel Quinn untuk mengerahkan lebih banyak sumber daya ke pasar Asia, ketika perusahaan memangkas pekerjaan dan bisnis yang berkinerja buruk di Eropa dan AS sebagai bagian dari perombakan besar-besaran.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi china hsbc
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top