Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sejumlah Negara Siap Cabut Lockdown, ​Kilau Emas Memudar

Penurunan harga emas merupakan respons pelaku pasar terhadap rencana pelonggaran lockdown dan pencabutan kondisi darurat nasional wabah pandemi di beberapa negara. 
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  18:43 WIB
Emas batangan. - bloomberg
Emas batangan. - bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Kilau logam mulia tampak memudar dalam beberapa perdagangan terakhir seiring dengan sinyal kembali berputarnya roda ekonomi dunia. Hal ini dipicu rencana beberapa negara untuk membuka lockdownnya sehingga menekan permintaan aset aman seperti emas.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas telah bergerak melemah selama tiga hari perdagangan berturut-turut dan semakin menekan harga emas untuk menembus ke bawah US$1.700 per troy ounce.

Padahal, emas berusaha bertahan di atas level US$1.700 per troy ounce sejak awal April, dan sempat menyentuh US$1.765 per troy ounce, level tertingginya sejak 2011.

Adapun, pada perdagangan Rabu (27/5/2020) hingga pukul 17.04 WIB, harga emas di pasar spot bergerak melemah 0,28 persen ke level US$1.705,75 per troy ounce, sedangkan harga emas berjangka untuk kontrak Agustus 2020 di bursa Comex terkoreksi 0,61 persen ke level US$1.717,6 per troy ounce.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah tipis 0,05 persen ke level 98,862.

Pelemahan pun tercermin di harga emas fisik olahan dalam negeri milik PT Aneka Tambang Tbk, atau emas Antam. Dalam perdagangan yang sama, emas Antam untuk ukuran 1 gram turun Rp8.000 ke posisi Rp909.000 per gram dari level Rp917.000 per gram pada perdagangan sebelumnya.

Jika tren pelemahan emas ini berlanjut, bukan tidak mungkin harga emas fisik akan kembali ke sekitar level Rp800.000 per gram, level yang terakhir kali dihinggapi emas Antam pada akhir Maret.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa saat ini pasar merespon rencana pelonggaran lockdown dan pencabutan kondisi darurat nasional wabah pandemi di beberapa negara. 

Tidak hanya itu, pasar juga tengah mencerna perkembangan penemuan vaksin baru untuk Covid-19 oleh beberapa perusahaan dan institusi.

“Dengan kedua sentimen tersebut, mendorong pasar kembali masuk ke aset-aset berisiko dan keluar dari aset aman seperti emas,” ujar Ariston kepada Bisnis, Rabu (27/5/2020).

Ariston mengatakan bahwa potensi pelemahan harga emas masih terbuka dan memproyeksi emas akan bergerak ke area US$1.680 per troy ounce dalam jangka pendek dengan potensi level resisten di kisaran US$1.735 per troy ounce.

Senada, Ahli Strategi Pepperstone Group Sean MacLean mengatakan bahwa harga emas tampak akan segera keluar dari jalur bullishnya, karena aksi jual terhadap emas cukup signifikan sebagai respon reli aset risiko yang lebih kuat pada beberapa perdagangan terakhir.

"Ini momentum reli untuk aset-aset berisiko. Orang-orang melihat ekonomi mulai dibuka kembali karena tidak hanya di AS tetapi di Eropa dan di seluruh dunia. Investor melihat dengan pembukaan lockdown kembali itu akan terjadi pemulihan ekonomi yang lebih kuat daripada yang diperkirakan,” ujar Maclean seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (27/5/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Emas Hari Ini harga emas comex
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top