Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PSBB Berpotensi Membuat Margin Laba Sejumlah Emiten Mengerut

Aktivitas ekonomi yang terganggu akibat pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di wilayah Indonesia hampir bisa dipastikan membuat pendapatan beberapa emiten menurun.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 10 Mei 2020  |  19:04 WIB
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (14/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan berada di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (14/4/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA — Aktivitas perekonomian yang terganggu akibat pemberlakukan pembatasan sosial berskala besar atau PSBB di wilayah Indonesia hampir bisa dipastikan membuat pendapatan beberapa emiten menurun.

Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menyatakan bahwa turunnya pendapatan yang tidak serta merta diimbangi dengan penurunan beban membuat potensi net profit margin atau margin laba perseroan makin mengerut.

“Pada kuartal kedua masih banyak emiten yang mempertahankan fixed cost-nya. Kami perhatikan, belum banyak emiten yang melakukan PHK [pemutusan hubungan kerja] dalam artian beban biaya mereka tetap, tapi pendapatan mereka turun,” ungkap Alfred kepada Bisnis, Jumat (8/5/2020).

Kendati demikian, dia memperkirakan emiten dari sektor farmasi, makanan, telekomunikasi, serta jasa logistik masih mampu membukukan pendapatan yang solid pada kuartal ini.

“Indofarma meskipun di alat kesehatan, tapi rugi ya, itu memang lain case karena volatilitas performa keuangannya cukup tinggi. Jadi, agak sulit kita memprediksi karena banyak faktor nonfundamental,” ujarnya.

Sementara untuk Kalbe Farma, Alfred mengungkapkan bahwa margin laba di sektor farma dalam sejarahnya memang tidak cukup besar dibandingkan dengan sektor konsumer lain. Namun, dengan catatan perseroan dapat mempertahankan margin labanya pada kuartal I/2019 dan kuartal II/2020 sebesar 11 persen, hal ini mengindikasikan perseroan mampu melakukan efisiensi di tengah tingginya permintaan.

Sementara itu, di sektor barang konsumer, penjualan untuk produk emiten PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) dan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) diperkirakan masih cukup kuat pada triwulan kedua tahun ini mengingat terdapatnya stimulus yang dapat memangkas beban perusahaan sehingga jika pendapatan emiten tersebut tidak terganggu, tetapi beban bisa turun, margin labanya diestimasikan pun dapat meningkat atau setidaknya terjaga pada kuartal ini.

Di lantai bursa, Alfred sendiri masih merekomendasikan emiten first liner seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) untuk ditransaksikan investor dalam jangka pendek dan menengah meskipun kedua emiten belum merilis laporan keuangan untuk 3 bulan pertama tahun ini. 

“Unilever dan Kalbe Farma kemungkinan pergerakan sahamnya masih kuat, tapi kalau dilihat dari potensi upside-nya tidak lebih besar dari Indofood,” katanya. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten covid-19
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top