Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Soal Penambahan Cadangan Emas, Bos BI Masih Pikir-Pikir

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan terkait kemungkinan penambahan cadangan emas, BI akan mengedepankan sisi likuiditas dan keamanan aset.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 29 April 2020  |  10:02 WIB
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Kamis (9/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Kamis (9/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia
Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia masih mempertimbangkan perihal penambahan cadangan emas di tengah tren peningkatan komoditas logam mulia tersebut.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan terkait kemungkinan penambahan cadangan emas, BI akan mengedepankan sisi likuiditas dan keamanan aset.
"Apakah BI saat ini menambah cadangan emas? memang dalam melakukan penanaman cadev selalu ada asas, pertama likuiditas, bagaimana kebutuhan membayar impor utang terjamin, lalu keamanan, kami tanamkan di aset yg aman," paparnya, Rabu (29/4/2020).
Selain itu, terkait cadangan emas, BI juga mempertimbangkan juga rentabilitas. Rentabilitas adalah hasil perolehan suatu investasi (penanaman modal) yang dinyatakan dengan persentase dari besarnya investas.
"Jadi kami tegaskan cadev bukan untuk spekulatif. Kalau harga emas naik, ada baiknya alokasikan cadev dari emas, tp harus kita ukur karena harganya naik turun," imbuhnya.
Pada perdagangan Rabu (29/4/2020) pukul 9.50 WIB, harga emas spot naik 0,08 persen atau 1,36 poin menjadi US$1.709,15 per troy ounce. Harga sudah menanjak 12,65 persen sepanjang tahun berjalan.
Dalam setahun terakhir atau 52 pekan, harga emas bergerak di rentang US$1.266,35 - US$1.747,36 per troy ounce.

Sementara itu, Bank of America yang telah menaikkan target harga emas untuk 18 bulan ke depan hingga mencapai US$3.000 per troy ounce di tengah prospek penggelontoran stimulus kebijakan moneter oleh banyak bank sentral di dunia untuk menopang pertumbuhan ekonomi dalam negerinya.

Adapun, proyeksi itu naik hingga lebih dari 50 persen dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar US$2.000 per troy ounce. Untuk tahun ini, Bank of America memperkirakan emas batangan menyentuh rata-rata US$1.695 per troy ounce tahun ini dan US$2.063 per troy ounce pada 2021.

Padahal, level rekor tertinggi emas sepanjang sejarah adalah US$1.921,17yang berhasil disentuh emas pada September 2011.

Analis Bank of America, termasuk Michael Widmer dan Francisco Blanch, dalam publikasi risetnya mengatakan bahwa dalam kondisi saat ini investor akan semakin mencari emas sebagai tempat perlindungannya dari berbagai prospek pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Karena output perekonomian berkontraksi cukup tajam, pengeluaran fiskal melonjak, dan neraca bank sentral berlipat ganda, fiat currencies bisa berada di bawah tekanan. Investor akan mengincar emas,” tulis Bank of America dalam publikasi risetnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/4/2020).

Kendati demikian, Bank of America mengatakan dolar yang kuat, turunnya volatilitas pasar keuangan, serta permintaan perhiasan yang lebih rendah di India dan China akan menjadi penahan kenaikan laju harga emas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas bank indonesia cadangan devisa
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top