Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Eastspring: Investor Jangan Panik, Ada Kesempatan Beli

PT Eastspring Investments Indonesia menilai volatilitas di pasar masih tinggi selama beberapa waktu ke depan. Namun, investor disarankan untuk tidak panik dan tetap berinvestasi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  17:11 WIB
 Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, PEKANBARU — PT Eastspring Investments Indonesia menilai volatilitas di pasar masih tinggi selama beberapa waktu ke depan. Namun, investor disarankan untuk tidak panik dan tetap berinvestasi.

Dalam catatan kilat yang diterima Bisnis.com, Eastspring Investments Indonesia menyebut koreksi pasar saham saat ini bisa menjadi kesempatan beli menggunakan dollar cost averaging.

Biasanya, dollar cost averaging dilakukan oleh investor reksa dana dengan strategi berinvestasi secara rutin dalam jumlah yang sama tanpa melihat harga.

Lebih lanjut, pelaku pasar dinilai masih akan bereaksi negatif terhadap penyebaran virus corona. Adapun, saat ini investor cenderung bakal menempatkan dananya ke dalam aset aman seperti obligasi dan emas.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

“Market bereaksi berlebihan (overreacted) dan valuasi terkoreksi ke level terendah dalam 10 tahun terakhir. PE IHSG saat ini berada pada level 12.4 kali dibandingkan dengan rata-rata 15 kali. Sangat murah dari historisnya,” tulis Eastspring Investments Indonesia, Jumat (28/2/2020).

Adapun IHSG telah tumbang hampir 4% pada perdagangan Jumat (28/2/2020) pukul 14.52 WIB ke level 5.337. Sejak awal tahun, IHSG anjlok 15,29%. 

Tak hanya IHSG, indeks saham di negara-negara lain turut melempem akibat penyebaran virus corona di beberapa negara. Adapun, penyebaran virus yang sangat cepat itu membuat investor khawatir dapat membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia.

Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut PDB dunia bisa dipangkas sekitar 0,1%—0,2% pada 2020 dan pertumbuhan ekonomi China tempat virus ini pertama kali merebak dapat turun 1% pada 2020.

Namun demikian, Eastspring Investments Indonesia, memperkirakan pasar akan pulih dalam jangka menengah dan panjang.

Mengingat penyebaran SARS pada 2003, sebagai perbandingan terdekat untuk virus Corona, pasar bergerak di zona merah di sepanjang Januari—Maret 2003.

“Namun, pasar rebound sangat cepat pada 1 tahun setelahnya,” tulis Eastspring Investments Indonesia.

Tak hanya SARS, pola serupa juga terjadi saat penyebaran virus seperti Avian Flu, MERS, Ebola, dan Zika walaupun dengan level tekanan dan rebound yang berbeda.

"Jangan panik, tetap tenang dan berinvestasi. Pasar saham terkoreksi dalam, sekarang ini dapat digunakan sebagai kesempatan beli menggunakan dollar cost averaging," tulis Eastspring Investments Indonesia.

Aset obligasi juga dinilai masih menarik untuk saat ini. Dengan adanya ekspektasi pemangkasan suku bunga, meningkatnya ketidakpastian, dan inflasi yang stabil disebut bakal menjadi pemanis untuk aset pendapatan tetap ke depannya.

Sementara untuk reksa dana, Eastspring Investments Indonesia merekomendasikan Eastspring Value Discovery dan Alpha Navigator yang diklaim terbukti berperforma paling positif ketika pasar rebound.

“Kami berinvestasi sebagian besar di big caps dan memilih saham yang memiliki prospek fundamental bagus dan risiko manajemen yang kuat,” tulis Eastspring Investments Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : M. Taufikul Basari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top