Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Obligasi Masuk Tahap Pelemahan

Kurangnya minat juga terlihat pada dana asing yang keluar dengan porsi 0,3% selama sepekan terakhir.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 27 November 2019  |  09:23 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – PT Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi pasar obligasi pada perdagangan hari ini masuk ke tahap pelemahan.

Dikutip dari hasil risetnya, Rabu (27/11/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan tanda-tanda pelemahan di pasar obligasi telah terlihat dari pergerakan yang bervariasi. Dia menyebut lelang sukuk terakhir belum cukup menggerakkan pasar karena investor menginginkan imbal hasil lebih besar.

Kurangnya minat juga terlihat pada dana asing yang keluar dengan porsi 0,3% selama sepekan terakhir.

“Sudah mulai menunjukkan tanda tanda bahwa pasar obligasi akan mengalami pelemahan di semua obligasi acuan,” ujarnya.

Adapun beberapa sentimen yang memengaruhi perdagangan hari ini yaitu pertama, Gubernur Bank Sentral AS Jerome Powell optimistis dengan keadaan ekonomi AS sehingga menyiratkan bahwa suku bunga acuan akan dipertahankan di level saat ini. Powell menganggap keputusan memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali di tahun ini mulai menunjukkan tajinya.

Kedua, tensi perang dagang China-AS mereda karema kedua belah pihak membuat konsesi mengenai masalah impor makanan, hak kekayaan intelektual, dan Huawei Technologies. Pembicaraan ini membuka peluang cerah meskipun tak ada batas waktu pasti kapan kesepakatan bakal dicapai.

Terakhir, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) dan Standard&Poor's (S&P) Global Ratings memperingatkan kepada Afrika Selatan terkait beberapa indikator. Indikator tersebut yakni pertumbuhan ekonomi yang lemah, memburuknya situasi utang, dan hambatan besar bagi perusahaan pelat merah sehingga mendorong IMF dan S&P mendesak Afrika Selatan untuk segera mereformasi ekonominya.

S&P Global Ratings telah menurunkan peringkat Afrika Selatan menjadi negatif dari sebelumnya akibat meningkatnya beban utang, defisit fiskal, dan pertumbuhan ekonomi yang rendah. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap aset di negara berkembang sehingga investor memilih aset yang lebih aman. Terlebih, Meksiko menunjukkan resesi secara analisis teknikal dan membuat investor global semakin berhati-hati.

Atas proyeksi tersebut, dia merekomendasikan agar investor melakukan aksi jual dalam volume kecil pada hari ini. “Kami merekomendasikan jual hari ini dengan volume kecil,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top