Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Jejak Bisnis Sang Begawan Properti Ciputra di Lantai Bursa

Ciputra dikenal luas sebagai begawan properti Indonesia. Perusahaan properti apa saja yang turut dibesarkan dan dibawanya ke lantai bursa?
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 27 November 2019  |  12:14 WIB
Ciputra di kediamannya di Pondok Indah, Jakarta, Kamis (28/6/2018). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Ciputra di kediamannya di Pondok Indah, Jakarta, Kamis (28/6/2018). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pengusaha senior Indonesia, Ciputra, mengembuskan nafas terakhirnya di Singapura pada Rabu (27/11/2019) dini hari pukul 01.05 waktu setempat.

Pengusaha yang dikenal sebagai begawan properti itu lahir di Parigi, Sulawesi Tengah pada 24 Agustus 1931 dan meninggal dunia pada usia 88 tahun.

Pak Ci, begitu dia biasa disapa, dikenal sebagai pengusaha terkemuka dan pelopor bisnis real estat Indonesia. Jaringan bisnisnya menggurita di bawah jaringan Ciputra Group dan tercatat ikut mendirikan Metropolitan Group serta Jaya Group.

Perusahaan-perusahaan itu kini sudah tercatat sebagai perusahaan terbuka dan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan penelusuran Bisnis, Pak Ci adalah lulusan SMP dan SMA Frater Don Bosco di Manado dan mengenyam pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Semasa kuliah, dia mendirikan usaha konsultan arsitektur bangunan bersama rekannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan.

Ciputra, pendiri Ciputra Group, menyampaikan sambutan pada acara Artpreneur Talk 2018 yang mengangkat tema Converting Millenial Into Brand Lovers di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Rabu (14/2/2018)./JIBI-Dedi Gunawan

Pada 1961, tepatnya setahun setelah lulus kuliah, Pak Ci ikut mendirikan PT Pembangunan Jaya, yang bergerak di bidang properti. Perusahaan itu merupakan hasil kemitraan antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dengan pihak swasta.

Di perusahaan itu, karir Pak Ci terus melejit sampai pemuncak dan menjadi wakil presiden komisaris di PT Pembangunan Jaya.

Pak Ci juga memiliki karya dan kontribusi yang cukup besar dalam pembangunan Jakarta sebagai ibu kota, salah satunya dalam pembangunan kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol.

Kemudian, ketika masih menjabat sebagai Direktur Utama Jaya Group, dia bersama rekannya yang lain yakni Sudono Salim, Sudwikatmono, Budi Brasali, dan Ibrahim Risjad, kembali mendirikan perusahaan pengembang lain yang diberi nama Metropolitan Group. Di perusahaan itu, Pak Ci menjadi Presiden Komisaris.

Di tengah perjalanan, dia kembali mendirikan perusahaan keluarga yang menjadi cikal bakal Ciputra Group, yakni PT Ciputra Development Tbk. Dikutip dari situs resminya, perusahaan ini awalnya bernama PT Citra Habitat Indonesia, yang didirikan pada 22 Oktober 1981.

Bisnis Properti
Perubahan nama menjadi Ciputra Development dilakukan pada 1990, lalu status sebagai perusahaan publik diraih pada 1994.

Perseroan yang berkode saham CTRA ini dikenal sebagai perusahaan properti terkemuka yang menawarkan konsep unik dan modern. Berbagai proyek pengembangan properti komersial dan perumahan pernah ditangani Ciputra Development.

Direktur Utama PT Ciputra Development Tbk Candra Ciputra (dari kiri), didampingi Direktur Budiarsa Sastrawinata, dan Direktur M. I. Meiko Handoyo memberikan keterangan pers, usai RUPS, di Jakarta, Rabu (26/6/2019)./Bisnis-Triawanda Tirta Aditya

Hingga saat ini, setidaknya ada 76 proyek yang dikembangkan CTRA, seperti perumahan, apartemen, pusat perbelanjaan, hotel, lapangan golf, rumah sakit, dan kantor yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Proyek perusahaan itu juga sudah dapat ditemukan di luar negeri, seperti di Kamboja dan China.

Bumi Serpong Damai, Pondok Indah, dan Bintaro adalah sebagian kecil dari perumahan sukses yang dicetuskan Pak Ci, melalui sejumlah perusahaan yang dipimpinnya.

Di tengah kabar duka hari ini, harga saham CTRA tercatat mengalami kenaikan 0,99 persen dari Rp1.010 pada penutupan perdagangan Selasa (26/11), menjadi Rp1.020 per saham pada pukul 11.19 WIB. Berdasarkan catatan Bisnis, CTRA mengantongi pendapatan Rp7,7 triliun dan total laba bersih sebesar Rp1,2 triliun per akhir 2018.

Atas kinerja tersebut, perseroan membagikan dividen senilai Rp185 miliar atau setara Rp10 per saham. Sumber pendapatan CTRA senilai Rp5,9 triliun berasal dari penjualan rumah hunian, ruko, tanah, apartemen dan gedung perkantoran. Sisanya, senilai Rp1,8 triliun ditopang pusat perbelanjaan, hotel, kantor, dan rumah sakit.

Adapun per kuartal III/2019, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp4,65 triliun atau turun tipis 0,74 persen secara year-on-year (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya, yang sekitar Rp4,69 triliun. Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga terpangkas 29,41 persen dari Rp579,81 miliar menjadi Rp409,23 miliar.

Beberapa proyek teranyar yang akan dikembangkan Ciputra Development pada tahun ini adalah perumahan tapak di Puri, Jakarta Barat; proyek residensial di Sentul, Bogor; apartemen di Ciracas, Jakarta Timur; dan mixed-use di Driyorejo, Gresik.

Di luar negeri, proyeknya mencakup Ciputra Hanoi International City di Vietnam, Grand Phnom Penh International City di Kamboja, dan Grand Shenyang International City di Negeri Panda.

Saat ini, Pak Ci masih tercatat menjadi jajaran komisaris di sejumlah perusahaan properti yang turut dibesarkannya, yakni PT Jaya Real Property Tbk. (JRPT), PT Metropolitan Kentjana Tbk. (MKPI), PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA), dan CTRA.

Saham JRPT turun 1,82 persen dari Rp550 per saham menjadi Rp540 pada Rabu (27/11) pukul 11.19 WIB. Kondisi ini menunjukkan berlanjutnya tren penurunan yang sudah berlangsung sejak pertengahan Juni 2019, ketika saham perseroan berada di level Rp650 pada Selasa (11/6).

Konsep pengembangan Grand Shenyang International City di China, salah satu proyek Ciputra Group di luar negeri./grandshenyang.com

Per kuartal III/2019, JRPT membukukan pendapatan Rp1,75 triliun, tumbuh 5,73 persen yoy dari sebelumnya Rp1,65 triliun. Bottom line juga meningkat 7,82 persen dari Rp687,09 miliar menjadi Rp740,84 miliar.

Ciputra sudah menjadi komisaris di JRPT sejak 1994, tahun yang sama ketika JRPT masuk ke lantai bursa.

Sementara itu, saham MKPI masih berada di posisi Rp13.500, tak berubah sejak lebih dari sebulan lalu. Per September 2019, perusahaan yang mengembangkan kawasan Pondok Indah ini mencatatkan pendapatan Rp1,3 triliun atau turun 21,15 persen yoy dari sebelumnya Rp1,65 triliun.

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga merosot 46,6 persen dari Rp788,14 miliar menjadi hanya Rp420,81 miliar.

Adapun saham MTLA tak bergerak di level Rp460 per saham, sama dengan posisi sehari sebelumnya. Meski demikian, posisi tersebut masih di bawah level tertinggi selama setahun terakhir, yang sebesar Rp494 per saham, pada Kamis (31/10).

Selama 9 bulan pertama 2019, perseroan meraih pendapatan sebesar Rp789,71 miliar, tergerus 16,81 persen secara tahunan dari sebelumnya Rp949,3 miliar. Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga menyusut 16,22 persen dari Rp302,33 miliar menjadi Rp253,27 miliar.

Ekspansi Bisnis
Tak hanya sektor properti, Ciputra Group juga mengembangkan bisnis ke bidang kesehatan, pendidikan, media dan telekomunikasi, serta keuangan. Jaringan rumah sakit yang didirikan antara lain Ciputra Hospital Citra Garden City, Ciputra Hospital Tangerang, Ciputra Medical Center, Ciputra SMG Eye Clinic, dan CDerma – Dermatology and Aesthetic Center.

Dalam bidang pendidikan, yang mulai dikembangkan Pak Ci pada usia 75 tahun, adalah sekolah dan Universitas Ciputra. Dia juga mendirikan Universitas Pembangunan Jaya dan menjadi penggerak Universitas Tarumanegara.

Pengunjung memadati jembatan cinta di Pantai Ancol, Jakarta, Selasa (1/1/2019). Pengembangan kawasan Ancol di utara Jakarta turut diinisiasi oleh Ciputra./ANTARA FOTO-Dhemas Reviyanto

Di bidang media dan telekomunikasi, Ciputra menaungi beberapa perusahaan media seperti Bintang, Aura, Home, Teen, serta perusahaan telekonomunikasi di bawah Ciptakom yang fokus di jaringan optik.

Adapun untuk bidang keuangan, Ciputra memiliki perusahaan asuransi yakni Asuransi Ciputra Indonesia alias Ciputra Life, anak usaha PT Ciputra International dan PT Tunas Andalan Pratama.

Jejaring bisnisnya yang menggurita dan lintas sektor membuat Pak Ci tercatat sebagai salah satu orang paling kaya di Indonesia, bahkan di dunia. Pada Maret 2019, Forbes memasukkan Ciputra dalam daftar orang-orang terkaya dunia, dengan total kekayaan ditaksir mencapai US$1,2 miliar.

Kepulangan Pak Ci hari ini mendatangkan duka mendalam, tak hanya bagi Ciputra Group tapi juga di hati banyak insan, terutama yang pernah berkomunikasi langsung dengannya. Pasalnya, selain menjadi pebisnis ulung, dia tak pelit berbagi dan dikenal luas sebagai seorang filantropis.

“Kami sebagai bagian dari grup Jaya yang turut dibesarkan oleh beliau, menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya almarhum Bapak Ciputra. Banyak sekali jasa beliau dalam pembangunan Ancol sebagai kawasan rekreasi terpadu. Semua dituangkan dalam gagasan dan karya yang luar biasa, yang sampai hari ini kita semua menikmati karyanya dan akan terus kami lanjutkan sebagai warisan yang sangat berharga,” papar Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. Teuku Sahir Syahali.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ciputra
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top