Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Infovesta Utama: Indeks RD Saham Bertahan di Zona Merah Tahun Ini

Infovesta Utama memperkirakan indeks reksa dana saham yang tercermin lewat Infovesta Equity Fund Index masih akan bertahan di zona merah pada penutupan tahun ini.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 22 November 2019  |  12:47 WIB
Edukasi dalam investasi reksa dana - www.sam.co.id
Edukasi dalam investasi reksa dana - www.sam.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Infovesta Utama memperkirakan indeks reksa dana saham yang tercermin lewat Infovesta Equity Fund Index masih akan bertahan di zona merah pada penutupan tahun ini.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana melihat kinerja indeks reksa dana saham menjadi satu-satunya yang berada di zona negatif sebesar -13,22 persen per 15 November 2019.

“Harapan kami ada perbaikan. Tetap negatif kemungkinan besar, perkiraan kami [ditutup] sekitar -3 persen. Kalau mengharapkan ke positif agak sulit,” kata Wawan kepada Bisnis, Kamis (22/11/2019).

Mengingat laporan keuangan emiten per kuartal III/2019 yang tak memuaskan, Infovesta Utama ikut memangkas target IHSG menuju 6.200—6.300 pada akhir tahun ini dari sebelumnya 6.500.

Menurut Wawan, aksi windows dressing diharapkan menjadi penopang setelah harapan terhadap kinerja emiten telah pupus. Selain itu, keluarnya investor asing juga membuat perjalanan IHSG menuju 6.500 pada akhir tahun ini semakin berat.

“Karena kan sebenarnya perkiraan kami di 6.500 itu salah satunya karena pertumbuhan pendapatan para emiten di kuartal III/2019 paling tidak ada pertumbuhan, tapi kan malah turun dibandingkan tahun lalu,” tuturnya.

Mengenai beberapa produk yang anjlok signifikan pada periode month-to-date, Wawan menilai memang ada beberapa manajer investasi yang tidak terlalu prudent.

Baru-baru ini, produk PT Narada Aset Manajemen telah disuspensi oleh Otoritas Jasa Keuangan karena perseroan mengalami gagal bayar pembelian beberapa efek saham hingga Rp177,78 miliar. Pasalnya, hal ini berpotensi membuat beberapa sekuritas mengalami kesulitan likuiditas dana dan dana modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) menjadi turun.

Adapun, produk Narada Saham Indonesia dan Narada Campuran I anjlok paling dalam masing-masing sebesar -53,65 persen dan -52,66 persen sejak awal bulan ini per 20 November 201.

“Ini akibat pengambilan keputusan dari fund manager yang tidak mengedepankan pertimbangan risiko,” tutur Wawan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) Mauldy Rauf Makmur menjelaskan secara umum memang kondisi pasar banyak dinamikanya dan volatilitas tinggi tak dapat terhindarkan.

“Sekarang  MI dituntut pintar mencari underlying yang bisa kasih return tinggi tapi tetap menjaga likuiditasnya. Ini kan jadi tantangan,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana saham
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top