Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rotasi Modal Asing ke Negara Berkembang Akan Topang IHSG

Hal ini diharapkan bisa menggenjot kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) setelah tak berdaya ditinggal investor asing lewat aksi jual bersih (net sell).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 22 November 2019  |  08:13 WIB
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Aliran modal asing diperkirakan kembali ke pasar saham Tanah Air pada tahun depan.

Hal ini diharapkan bisa menggenjot kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) setelah tak berdaya ditinggal investor asing lewat aksi jual bersih (net sell).

Berdasarkan data BEI per 21 November 2019, investor asing mencatatkan net sell senilai Rp404,48 miliar.

Sejak awal tahun tercatat beli bersih (net buy) investor asing senilai Rp43,91 triliun yang di dalamnya terdapat transaksi skema crossing saham dari MUFG Bank Ltd. dalam rangka meningkatkan kepemilikannya di PT Bank Danamon Indonesia Tbk. dan PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk. senilai total Rp49,6 triliun.

Dikurangi dengan aksi korporasi tersebut, sebenarnya telah terjadi aliran modal keluar (capital outflow) sekitar Rp5,69 triliun.

Sementara itu, IHSG masih tumbuh negatif sejak awal tahun sebesar -1,25% ke level 6.117 pada akhir perdagangan Rabu (21/11/2019).

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menjelaskan bahwa aliran dana di dunia akan selalu berotasi. Saat ini, saham-saham di negara maju seperti Amerika Serikat telah mulai mahal.

Ditambah lagi pada tahun depan Negeri Paman Sam tersebut akan mengadakan Pemilu sehingga bakal membuat investor wait and see dan memindahkan modalnya ke negara berkembang.

“Jadi, valuasi sudah mahal dan ada ketidakpastian. Mungkin saja investor akan pindah ke negara yang masih murah,Indonesia murah, tapi proses pindahnya pelan-pelan,” kata Rudiyanto kepada Bisnis, Kamis (21/11/2019).

Menurutnya perpindahan aliran modal asing ini akan mendorong penguatan IHSG ke depannya walau tidak akan terjadi dalam waktu yang cepat.

Sementara dari dalam negeri, dirinya menilai masih minim sentimen untuk dapat menopang kenaikan indeks. Apalagi data kinerja emiten pada kuartal III/2019 yang tidak sesuai ekspektasi membuat kejutan positif dari laporan keuangan akan minimal pada tahun ini.

Namun salah satu katalis positif masih diharapkan berasl dari sentimen rebound harga kelapa sawit (CPO).

“Kenaikan harga kelapa sawit akibat cuaca, diperkirakan akan menjadi sentimen positif bagi sektor perkebunan yang sudah terkena dampak penurunan harga dan bisa meningkatkan daya beli masyarakat di daerah penghasil sawit,” kata Rudiyanto.

Adapun Panin Asset Management telah memangkas target IHSG pada akhir tahun menjadi kisaran 6.600—6.800 pada akhir 2019 dari sebelumnya 7.000.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top