Bursa Asia Fluktuatif, IHSG Menguat 0,13 Persen di Jeda Siang

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,13 persen atau 7,98 poin ke level 6.177,58 pada akhir sesi I, setelah dibuka menguat tipis 0,01 persen atau 0,31 poin di posisi 6.169,90 dari level penutupan sebelumnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  12:57 WIB
Bursa Asia Fluktuatif, IHSG Menguat 0,13 Persen di Jeda Siang
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (17/10/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 0,13 persen atau 7,98 poin ke level 6.177,58 pada akhir sesi I, setelah dibuka menguat tipis 0,01 persen atau 0,31 poin di posisi 6.169,90 dari level penutupan sebelumnya.

Adapun pada perdagangan Rabu (16/10), IHSG ditutup di level 6.169,59 dengan penguatan 0,19 persen atau 11,43 poin.

Sepanjang perdagangan sesi I hari ini, IHSG bergerak di level 6.169,69 – 6.197,93.

Enam dari sembilan sektor menetap di zona hijau pada akhir sesi I, dipimpin oleh sektor aneka industry yang menguat 1,34 persen, disusul sektor pertanian yang naik 1,09 persen. Adapun tiga sektor lainnya melemah, didorong sektor tambang yang turun 0,42 persen.

Sebanyak 206 saham menguat, 156 saham melemah, dan 296 saham stagnan dari 658 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing menguat 0,75 persen dan 1,18 persen menjadi penopang utama penguatan IHSG di sesi I.

Di negara lainnya di Asia, bursa saham bergerak cenderung fluktuatif, dengan indeks Topix melemah 0,28 persen dan Nikkei menguat 0,11 persen, sedangkan indeks Kospi melemah 0,35 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite melemah 0,06 persen, sedangkan indeks CSI 300 menguat 0,02 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng menguat 0,56 persen.

Dilansir Reuters, bursa saham Asia fluktuatif setelah data penjualan ritel AS yang mengecewakan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan ekonomi Negeri Paman Sam dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Indeks S&P 500 turun 0,20 persen pada hari Rabu setelah data menunjukkan penjualan ritel AS terkontraksi pada bulan September untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, sekaligus menjadi tanda bahwa pelemahan sektor manufaktur dapat menyebar ke ekonomi yang lebih luas.

"Sepertinya perang dagang telah merenggut korban lain, di samping kepercayaan bisnis yang berkurang dan berkurangnya pengeluaran investasi, karena konsumen mulai mengalah," kata Chris Rupkey, kepala ekonom keuangan di MUFG Union Bank, seperti dikutip Reuters.

Mengingat konsumsi AS telah menjadi salah satu dari sedikit harapan yang tersisa di ekonomi global, data tersebut meningkatkan mengkhawatirkan bahwa perang dagang AS-China mendorong dunia ke dalam resesi.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan pada hari Rabu bahwa AS dan negosiator perdagangan China sedang berupaya untuk menyelesaikan teks kesepakatan perdagangan Fase 1 untuk ditandatangani presiden kedua negara bulan depan.

Namun dia juga mengatakan tidak ada rencana untuk pertemuan tingkat tinggi lain mengenai kesepakatan perdagangan yang diuraikan pekan lalu.

"AS hanya menunda kenaikan tarif, bukan menghapuskannya, sehingga sulit untuk mengharapkan peningkatan ekonomi," kata Yoshinori Shigemi, analis pasar global di JPMorgan Asset Management.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top