Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Makin Melemah pada Akhir Sesi I

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin tertekan hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (2/10/2019).
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 02 Oktober 2019  |  12:46 WIB
Tertekan Sentimen Eksternal, IHSG Makin Melemah pada Akhir Sesi I
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin tertekan hingga akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (2/10/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG melemah 0,51 persen atau 31,55 poin ke level 6.106,70 pada akhir sesi I, setelah dibuka melemah 0,22 persen atau 13,81 poin ke level 6.149,08 dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (1/10), IHSG ditutup melemah 0,5 poin atau 30,85 poin ke level 6.138,98. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 6.122,98-6.151,89.

Tujuh dari sembilan sektor menetap di zona merah pada akhir sesi I, dipimpin sektor aneka industri yang turun 1,05 persen, disusul sektor tambang yang melemah 0,84 persen. Di sisi lain, sektor infrastruktur dan pertanian menguat masing-masing 0,26 persen dan 0,18 persen.

Sebanyak 152 saham menguat, 233 saham melemah, dan 270 saham stagnan dari 656 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 3,26 persen dan 0,98 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen pada September 2019 mengalami deflasi sebesar 0,27 persen. Posisi ini lebih rendah dari deflasi Agustus 2019 sebesar 0,68%,

Tim riset Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan IHSG masih tertekan sejumlah sentimen negatif yang datang dari eksternal, di antaranya dari data manufaktur AS yang membuat kekhawatiran akan pelemahan ekonomi membesar.

Indeks ISM manufaktur PMI September berada pada level 47.8 terendah sejak Juni 2009 dan merupakan bulan kedua data tersebut berada di zona kontraksi. Selain itu, indeks pesanan ekspor baru juga hanya berada di level 41.0, turun dari bulan Agustus 2019 sebesar 43.3 dan merupakan data terendah sejak Maret 2009.

Selain itu, WTO memangkas outlook ekonomi 2019 menjadi 1.2 persen yoy. Pemangkasan ini turun tajam dari proyeksi pada bulan April sebesar 2.6 persen.

Menurut WTO, penyebab utama rendahnya pertumbuhan dunia disebabkan berlarut-larutnya perang dagang AS dan China. Konflik kedua negara membuat dunia usaha menunda rencana ekspansinya.

“Maraknya sentimen negatif membuat kami memperkirakan IHSG hari ini kembali terkoreksi dan mengikuti pergerakan bursa regional,” ungkap tim riset Samuel Sekuritas, Rabu (2/9).

Sejalan dengan IHSG, Jakarta Islamic Index melemah 0,26 persen atau 1,74 poin ke level 678,11 pada akhir sesi I, sedangkan idneks Bisnis-27 melemah 0,68 persen atau 3,63 poin ke level 528,26.

Mayoritas indeks saham lain di Asia cenderung melemah, di antaranya indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang yang masing-masing turun 0,51 persen dan 0,5 persen.

Sementara itu, indeks Hang Seng melemah 0,11 persen, indeks FTSE Straits Time merosot 1,14 persen, sedangkan indeks Kospi turun 1,51 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top