Ini Alasan Kresna Sekuritas Kerek Target Harga ADRO ke Rp1.700

Dalam risetnya, Kresna Sekuritas mengerek target harga ADRO dari target sebelumnya di kisaran Rp1.600 per saham.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 11 September 2019  |  15:09 WIB
Ini Alasan Kresna Sekuritas Kerek Target Harga ADRO ke Rp1.700
Aktivitas di area pertambangan batu bara PT Adaro Indonesia, di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, Selasa (17/10). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – PT Kresna Sekuritas merekomendasikan beli untuk emiten batu bara PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dengan target harga Rp1.700 per saham dalam 12 bulan ke depan.

Dalam risetnya, analis Kresna Sekuritas Robertus Hardy mengatakan target harga itu mencerminkan proyeksi harga per laba (price earning ratio/PER) 7,9 kali pada 2019 dan 7,7 kali pada 2020.

Target itu lebih tinggi dari target sebelumnya di level Rp1.600 per saham. Adapun pada penutupan perdagangan Selasa (10/9/2019), ADRO mendarat di level harga Rp1.410 per saham.

“Target harga ADRO sedikit naik karena ada kami merevisi estimasi volume produksi pada tahun ini dari 54 juta-55 juta ton menjadi 55 juta-56 juta ton,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan Kamis (11/9).

Output tahunan ADRO juga berpotensi meningkat sejalan dengan operasional dua pembangkit listrik perseroan. Pertama, PT Tanjung Power Indonesia dengan kapasitas 2x100 MW di Kalimantan Selatan. Fasilitas tersebut diproyeksikan dapat menyerap 1 juta ton batu bara per tahun.

Kedua, PT Bhimasena Power Indonesia dengan kapasitas 2x1.000 MW di Jawa Tengah. Fasilitas tersebut diproyeksikan dapat menyerap sampai 7 juta ton batu bara per tahun.

Robertus mengatakan sampai dengan Juni proyek Bhimasena Power Indonesia telah mencapai 60%. Proyek itu rencananya akan mulai beroperasi secara komersil pada tahun depan.

“Proyek ini bisa mendorong produksi batu bara ADRO sampai 62 juta-63 juta ton dari proyeksi semula 55 juta-56 juta ton,” katanya.

Selain proyek pembangkit listrik, ADRO juga diproyeksi mendapat kontribusi yang lebih signifikan dari Kestrel Coal Resources Pty LTd. yang baru diakuisisi pada Agustus 2018. Kestrel, lanjut Robertus, memproduksi 3,45 juta ton coking coal.

Produk tersebut dinilai memiliki margin keuntungan yang tebal sehingga laba setelah pajak (profit after tax/PAT) dari segmen bisnis itu lebih besar. Pada paruh pertama tahun ini, kontribusi PAT dari Kestrel mencapai US$48 juta.

Pada semester I/2019, PAT dari segmen pertambangan dan perdagangan batu bara menyusut 27% secara tahunan dari US$245 juta pada semester I/2018 menjadi US$179 juta.

Pada periode tersebut, PAT yang dikantongi Adaro Energy dari segmen bisnis jasa pertambangan, logistik, dan bisnis lainnya mencapai US$143 juta. Realisasi itu berbalik dari rugi bersih US$21 juta pada semester I/2018.

Sementara itu, risiko yang bisa mengadang ADRO antara lain laba yang lebih rendah dari proyeksi Kresna Sekuritas.

Kresna Sekuritas memperkirakan ADRO bakal mengemas pendapatan US$3,52 miliar pada 2019, turun penurunan 2,65% dari raihan US$3,62 miliar pada 2018. Sementara itu, laba bersihnya diproyeksi naik dari US$418 juta pada 2018 menjadi US$481 juta pada 2019.

Pada 2020, pendapatan dan laba bersih ADRO diproyeksi masing-masing mencapai US$3,7 miliar dan US$494 juta. Proyeksi laba itu lebih tinggi 12% dari rerata konsensus analis sebesar US$440 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
adaro, rekomendasi saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top