Reksa Dana Dollar AS : Hati-hati dengan Risiko Kurs

Kinerja reksa dana berdenominasi dollar AS memang positif sejak awal tahun. Namun, investor perlu berhati-hati dengan risiko kurs ketika rupiah menguat di hadapan greenback
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 30 Agustus 2019  |  17:55 WIB
Reksa Dana Dollar AS : Hati-hati dengan Risiko Kurs
Ilustrasi-Edukasi dalam investasi reksa dana - www.sam.co.id

Bisnis.com, JAKARTA--Kinerja reksa dana berdenominasi dollar AS memang positif sejak awal tahun. Namun, investor perlu berhati-hati dengan risiko kurs ketika rupiah menguat di hadapan greenback.

 

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menyampaikan bahwa reksa dana berdenominasi dollar AS, khususnya jenis pendapatan tetap, telah menikmati keuntungan dari penurunan suku bunga.

 

“Kalau yang saham, itu memang bursa di regional terutama di Asia dan AS kinerjanya jauh di atas IHSG untuk tahun ini. Jadi, ini yang membuat kuat,” kata Wawan kepada Bisnis, Kamis (29/8/2019).

 

Kinerja IHSG yang tak seciamik bursa di luar negeri, lanjut Wawan, dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi domestik dan tertundanya proses investasi menjelang Pilpres.

 

Kendati demikian, Wawan menegaskan, minat investor ke reksa dana berbasis rupiah juga terus membaik yang tercermin oleh meningkatnya total dana kelolaan industri reksa dana menembus Rp500 triliun pada bulan lalu.

 

“Sebenarnya minat investor tetap tinggi juga ke [reksa dana] rupiah. Kalau secara kinerja memang yang [reksa dana] dollar AS sekarang lebih menarik, sehingga sebagian investor tertarik untuk masuk ke sana,” jelas Wawan.

 

Wawan meyakini, positifnya kinerja yang dicetak reksa dana berdenominasi dollar AS akan berlanjut hingga akhir tahun. Dari jenis pendapatan tetap bakal ditopang oleh tren penurunan suku bunga, sementara jenis saham akan bergerak positif mengikuti performa bursa saham di Asia Pasifik dan AS.

 

Namun demikian, investor diingatkan untuk tetap mencermati risiko kurs yang dapat terjadi. Adapun, risiko kurs penting diperhatikan oleh investor yang memiliki kebutuhan dalam rupiah tetapi ingin berinvestasi dalam dollar AS.

 

“Itu harus dipertimbangkan untuk mau masuk ke reksa dana dollar, idealnya memang kebutuhannya dalam bentuk dolar juga,” tutur Wawan.

 

Adapun, per 26 Agustus 2019 terpantau indeks dollar AS telah menguat 1,98% ke level 98,0810 dan yield obligasi AS bertenor 10 tahun berada di level 1,54%.

 

 

Berdasarkan data Infovesta Utama per 26 Agustus 2019, sebanyak 36 produk reksa dana berdenominasi dolar AS mencatatkan imbal hasil positif di rentang 24,18%—1,10% secara year-to-date (ytd).

 

 

 

Adapun pada 10 besar produk reksa dana berdenominasi dollar AS dengan return tertinggi, sebagian besar merupakan produk reksa dana jenis pendapatan tetap sebanyak 6 produk. 

 

 

 

Sisanya, sebanyak 2 produk berjenis reksa dana saham dan 2 produk berjenis reksa dana campuran.

 

 

 

Produk reksa dana pendapatan tetap besutan PT Surya Timur Alam Raya (STAR), yaitu Star Fixed Income Dollar, mencetak kinerja tertinggi sebesar 24,18% ytd.

 

 

 

Selanjutnya, reksa dana pendapatan tetap Cipta Obligasi Dollar yang dikelola oleh PT Ciptadana Asset Management dan reksa dana saham Ashmore Dana USD Equity Nusantara dari PT Ashmore Asset Management Indonesia menyusul dengan imbal hasil masing-masing sebesar 17,27% ytd dan 15,44% ytd.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top