INDEKS LQ45 Kian Likuid dengan Konstituen Baru

Hadirnya tiga pendatang baru dalam indeks LQ45 dinilai bakal semakin mendorong performa indeks saham terlikuid tersebut.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  09:11 WIB
INDEKS LQ45 Kian Likuid dengan Konstituen Baru
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Hadirnya tiga pendatang baru dalam indeks LQ45 dinilai bakal semakin mendorong performa indeks saham terlikuid tersebut.

Adapun, PT Bursa Efek Indonesia telah menyelesaikan evaluasi atas metodologi penyusunan konstituen indeks LQ45. 

Dalam laman resminya, BEI menyampaikan pada bulan ini bursa telah melakukan evaluasi mayor untuk menetapkan daftar saham dan menyesuaikan bobot atas saham-saham yang digunakan dalam penghitungan indeks LQ45.

“BEI melakukan penyelesaian tahap akhir atas rasio saham non-free float yang tidak dihitung pada indeks LQ45,” tulis BEI, Kamis (25/7/2019).

Adapun, per 1 Agustus 2019, rasio saham non-free float yang tidak dihitung pada indeks LQ45 telah dinaikkan menjadi 100%, dari 60% per 2 Mei 2019 dan 30% per 1 Februari 2019. Dengan demikian, kini penghitungan konstituen indeks LQ45 sepenuhnya menggunakan saham free float.

Dengan ketentuan baru tersebut, sebanyak 3 saham baru kini bergabung dengan indeks LQ45 untuk periode Agustus 2019—Januari 2020 yaitu saham milik PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syaria Tbk. (BTPS), PT Ciputra Development Tbk. (CTRA), dan PT Japfa Tbk. (JPFA).

Sementara itu 3 saham yang terdepak dari indeks saham terlikuid tersebut adalah PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Elnusa Tbk. (ELSA), dan PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) menjadi saham yang dikeluarkan dari indeks LQ45.

Senior Manager Research Analyst Kresna Sekuritas Robertus Yanuar HardyRobertus Yanuar Hardy menjelaskan, masuknya tiga saham pendatang baru tersebut bakal dapat mendorong performa indeks LQ45 ditopang oleh likuiditas yang semakin meningkat.

“[Kinerja LQ45] masih positif. Likuiditas semakin meningkat, arus modal masuk pun lebih tinggi di paruh kedua tahun ini,” kata Robertus kepada Bisnis, Kamis (25/7/2019). 

Adapun sebulan terakhir per 25 Juli 2019, investor asing telah mencatatkan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp10,74 triliun. Sepanjang tahun berjalan, bursa mencatat net buy asing senilai Rp70,47 triliun.

Robertus mengingatkan, tantangan bagi laju penguatan indeks LQ45 akan terpapar dari ancaman perlambatan ekonomi global akibat perang dagang AS—China. Baru-baru ini, IMF telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,2% pada 2019 dan 3,5% pada 2020, masing-masing turun 0,1% dari perkiraan sebelumnya.

Namun demikian, prospek untuk ketiga saham pendatang baru indeks LQ45 dinilai masih positif lantaran likuiditasnya yang masih tinggi.

Adapun potensi penurunan suku bunga pada semester II/2019 ini dinilai Robertus bakal menguntungkan BTPS, CTRA dan JPFA. Pasalnya, bisnis ketiga emiten ini termasuk yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga.

Kresna Sekuritas pun masih merekomendasikan saham-saham yang terdepak dari indeks LQ45 kali ini, yaitu ADHI, ELSA, dan WSBP.

“Mengingat ini hanya rebalancing sementara. kami [akan] lihat 3–6 bulan ke depan. Apabila ada peningkatan likuiditas, maka bukan tidak mungkin bisa masuk lagi karena selama ini sudah menjadi langganan anggota indeks LQ45,” jelas Robertus sambil menambahkan fundamental ketiga emiten tersebut masih positif.

Dirinya menilai, keluarnya ketiga emiten pelat merah tersebut bukan karena aturan free float yang baru karena ketiganya memiliki free float di atas 7,5% atau sudah di atas ketentuan bursa

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top