Porsi Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

Porsi kepemilikan investor ritel Indonesia di instrumen obligasi menempati posisi terendah yakni 20,4% terhadap produk domestik bruto. Porsi itu terdiri atas 16,7% di instrumen obligasi Pemerintah dan 2,8% di instrumen obligasi korporasi.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 18 Juli 2019  |  08:15 WIB
Porsi Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Porsi investor ritel di pasar obligasi Tanah Air masih minim bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Fikri C Permana mengatakan Indonesia menempati posisi terendah yakni 20,4% terhadap produk domestik bruto yang terdiri atas 16,7% di instrumen obligasi Pemerintah dan 2,8% di instrumen obligasi korporasi.

Adapun, berada di urutan teratas terdapat Malaysia dengan porsi 104,7% terhadap PDB dengan selisih tipis antara penempatan dana di obligasi Pemerintah dan korporasi.
Sementara itu, setingkat di atas Indonesia, terdapat Vietnam dengan porsi total 21,2% yang 19,3% di antaranya berasal dari obligasi Pemerintah dan 1,8% dari obligasi korporasi.

Menurutnya, rendahnya minat investor Tanah Air karena masyarakat yang mewakili investor ritel belum berani masuk ke pasar keuangan. Masyarakat, katanya, masih lebih nyaman mengandalkan tabungan ketimbang menggunakan produk keuangan lain seperti surat utang dan saham.

"Orang Indonesia lebih rendah jumlahnya yang masuk ke pasar keuangan dibandingkan dengan negara lain di kawasan. Fungsi intermediasi kita sangat terbatas," ujarnya.

Dalam hasil risetnya, Syuhada Arief, Senior Portfolio Manager Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen mengatakan terdapat dua kelompok investor ritel yakni kelompok yang memutuskan langsung masuk ke pasar surat utang dan kelompok yang masuk melalui instrumen reksadana obligasi.

Dari sisi minimum investasi, reksadana obligasi bisa dimulai dengan Rp100.000. Sementara itu, pada instrumen obligasi, nilainya lebih besar. Sebagai contoh, pada Savings Bond Ritel (SBR) saja investasi minimum sebesar Rp1 juta.

"Sementara untuk membeli obligasi secara langsung dibutuhkan minimum investasi yang jauh lebih besar," katanya.

Selain itu, dari sisi pengelolaan, reksadana obligasi menawarkan fasilitas tim manajer investasi. Dengan tim manajer investasi ini, katanya, strategi bisa disesuaikan dengan kondisi pasar sehingga bisa mendapat imbal optimal.

"Manajer investasi dapat memanfaatkan fluktuasi di pasar untuk mendapatkan return yang lebih optimal," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, investasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top