Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Proyek Smelter, Vale Indonesia (INCO) Targetkan Negosiasi Segera Rampung

Di Bahadopi, Sulawesi Tengah, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) memiliki rencana pembangunan smelter feronikel. Selanjutnya, perseroan juga memiliki rencana pembangunan smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  09:26 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA— PT Vale Indonesia Tbk. menyebut proses negoisasi dengan calon mitra untuk pengembangan smelter perseroan berjalan dengan baik dan diharapkan tuntas pada 1 bulan hingga 2 bulan ke depan.

Di Bahadopi, Sulawesi Tengah, emiten berkode saham INCO itu memiliki rencana pembangunan smelter feronikel. Selanjutnya, Vale Indonesia juga memiliki rencana pembangunan smelter nikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Wakil Presiden Direktur Vale Indonesia Febriany Eddy mengklaim progres negoisasi untuk rencana pengembangan smelter berjalan dengan baik. Menurutnya, hampir seluruh item sudah disepakati.

“Hanya ada beberapa hal yang masih belum disepakati. Bulan ini dan bulan depan ada pertemuan lagi, semoga bisa tuntas dalam 1 bulan—2 bulan ini sehingga bisa segera diumumkan ke pasar setelah persetujuan pemegang saham tentunya,” paparnya.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, proyek Bahodopi dan Pomalaa disebut akan menghasilkan produk olahan nikel kelas satu. Produk tersebut berbeda dengan nickel matte yang biasa diproduksi Vale Indonesia melalui pabrik di Sorowako, Sulawasi Selatan.

Nickel matte hanya digunakan untuk industri baja anti karat stainless steel. Adapun, nikel kelas satu merupakan bahan baku produk premium seperti baterai listrik untuk electronic vehicle (EV).

Sebelumnya, Head of Investor Relations and Treasury Vale Indonesia Adi Susatio menyebut Vale Indonesia telah memiliki rencana ke depan. INCO memiliki dua proyek green field Bahadopi, Sulawesi Tengah dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

“Proyek di Bahadopi untuk nickel iron pig sedangan di Pomalaa untuk produksi bahan baku baterai mobil,” ujarnya kepada Bisnis.com baru-baru ini.

Selain itu, sambungnya, INCO juga memiliki rencana di Sorowako. Vale Indonesia akan menaikkan kapasitas menjadi 90.000 ton nikel dalam matte pada 2022.

Berdasarkan catatan Bisnis.com, Vale Indonesia menganggarkan belanja modal US$165 juta pada 2019. Rencana itu naik dua kali lipat dari US$83 juta pada 2018.

Vale Indonesia akan menggunakan kas internal sebagai sumber pendanaan belanja modal 2019. Pasalnya, INCO mampu menghasilkan laba sekitar US$60 juta pada 2018.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kinerja emiten vale indonesia tbk
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top