IHSG Menghijau, Investor Disarankan Aksi Ambil Untung di Harga Terbaik

Menurut analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi, pergerakan IHSG secara teknikal melompat mencapai target MA50 dengan membentuk pola candlestick ‘Shooting Star’ yang diawali short term uptrend.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 11 Juni 2019  |  06:32 WIB
IHSG Menghijau, Investor Disarankan Aksi Ambil Untung di Harga Terbaik
Pengunjung berjalan di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah Indeks harga saham gabungan (IHSG) naik tajam pada perdagangan Senin (10/6), hari ini analis menyarankan untuk aksi ambil untung karena melihat adanya potensi koreksi dalam jangka pendek.

IHSG kemarin mencatat kenaikan 1,296 persen ke level 6.289,61. Mengawali pekan mayoritas indek saham Asia juga menguat signifikan, yakni indeks Hangseng (+2.27 persen) dan Shanghai (+1.29 persen) bergerak naik setelah Nikkei (1.20 persen) dan TOPIX (+1.34 persen).

Menurut analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi, pergerakan IHSG secara teknikal melompat mencapai target MA50 dengan membentuk pola candlestick ‘Shooting Star’ yang diawali short term uptrend.

“Kondisi IHSG secara teknikal cukup mengkhawatirkan dengan signal koreksi wajar dalam jangka waktu dekat,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (11/6/2019).

Ia menjelaskan bahwa indikator Stochastic dan RSI pun mulai terlihat mahal pada area jenuh beli. Dengan begitu, Nafi menyarankan untuk mulai melakukan aksi ambil untung jual di harga terbaik dengan potensi IHSG terkoreksi wajar kembali menutup gap yang terbentuk dengan support-resistance 6.200-6.304.

Saham-saham yang masih dapat dicermati di antaranya WTON, MAIN, BDMN, INCO, dan ERAA.

Pergerakan IHSG kemarin masih diengaruhi oleh sentimen euforia terhadap rating utang Indonesia yang mendapatkan upgrade dari S&P menjadi BBB dari BBB- menjelang libur panjang Lebaran.

Pemerintah juga berencana mengadakan intensif pajak untuk zona ekonomi spesial hingga rencana pembentukan tim khusus untuk menekan pertumbuhan ekspor dengan melibatkan semua pemangku kepentingan. Intensif pajak tersebut termasuk tax holidays dan tunjangan pajak untuk perusahaan dan juga untuk pekerja asing.

Sementara itu, inflasi Indonesia bergerak tercepat sejak bulan April 2019 dengan kenaikan terbesar pada harga makanan yang melaju lebih dari 4 persen dan menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan inflasi.

Selain itu data kinerja manufaktur PMI indonesia tumbuh ke posisi tertinggi dalam 9 bulan di tengah pertumbuhan ekspansi yang kuat. Investor asing tercatat net buy Rp480,82 miliar dengan nilai tukar rupiah terhadap USD menguat 0,13 persen ke level Rp14.250 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, rekomendasi saham

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup