Sektor Pertambangan Patut Diwaspadai

Selama libur Lebaran ini fokus investor masih kepada perang dagang AS-china yang berlanjut dengan blacklist terhadap Huawei.
Sektor Pertambangan Patut Diwaspadai Anitana Widya Puspa | 10 Juni 2019 06:05 WIB
Sektor Pertambangan Patut Diwaspadai
Karyawan melintas di dekat papan penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (7/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Pengamat menilai sektor pertambangan perlu mendapat perhatian khusus terkait dengan tingginya resiko potensi pelemahan ekonomi China.

Analis Reliance Sekuritas Kornelis Wicaksono mengatakan bahwa salah satu importir raw mining materials terbesar adalah China.

“Jika ekonomi Tiongkok melemah terkait perang dagang, maka permintaan raw materials ditakutkan ikut menurun,” jelasnya kepada Bisnis akhir pekan ini.

Kornelis mengatakan bahwa selama libur Lebaran ini fokus investor masih kepada perang dagang AS-china yang berlanjut dengan blacklist terhadap Huawei.

Dikhawatirkan perang dagang akan menekan ekonomi kedua negara yang berimbas ke negara lain. Alhasil, data krusial yang akan menentukan arah IHSG pascalebaran adalah tingkat pengangguran AS yang dirilis pada 7 Juni.

Departemen Tenaga Kerja AS menyampaikan jumlah tenaga kerja baru pada Mei 2019 hanya 75.000 tenaga kerja. Angka ini, jauh di bawah ekspektasi pasar, sebanyak 180.000 tenaga kerja.

Tim analis Monex Investindo Futures menuliskan dalam laporan, Jumat (7/6/2019), capaian ini adalah yang terendah kedua dalam 4 bulan di mana kenaikan jumlah tenaga kerja kurang dari 100.000 karena pasar tenaga kerja masih menunjukkan sinyal pelemahan.

Selain itu yang menjadi pemicu penurunan jumlah tenaga kerja pada Mei adalah laporan 2 bulan sebelumnya yang menunjukkan revisi penurunan yang substansial.

Secara umum, laporan AS tersebut menjadi titik hitam lainnya di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi yang lebih besar. 

Sementara itu, lanjut dia, investor perlu memperhatikan saham-saham bluechip dan defensif misalnya di sektor consumer goods dengan tidak menentunya ekonomi global yang berimbas terhadap ekonomi domestik.

Misalnya saja PT Mitra Adi Perkasa Tbk. (MAPI) dan PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RAL). Saham-saham tersebut layak diperhatikan mengingat penjualannya akan mendapat sentimen positif selama Ramadan.

Dia memberikan target konsensus MAPI masih jauh yaitu di angka Rp1130 sedangkan target konsensus RALS di 1890.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top