Kinerja Kuartal 1-2019 Tertekan, Ini Penjelasan TPIA

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dikutip pada Minggu (9/6/2019), emiten dengan kode saham TPIA ini mencatatkan pendapatan bersih sepanjang kuartal I/2019 sebesar US$552,22 juta atau turun 20,58 persen secara tahunan.
Kinerja Kuartal 1-2019 Tertekan, Ini Penjelasan TPIA Azizah Nur Alfi | 09 Juni 2019 19:55 WIB
Kinerja Kuartal 1-2019 Tertekan, Ini Penjelasan TPIA
Repro - Chandra Asri Petrochemical

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten petrokimia terintegrasi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) tertekan sepanjang kuartal I/2019, baik secara pendapatan (top line) maupun net profit (bottom line).

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia yang dikutip pada Minggu (9/6/2019), emiten dengan kode saham TPIA ini mencatatkan pendapatan bersih sepanjang kuartal I/2019 sebesar US$552,22 juta atau turun 20,58 persen secara tahunan.

Adapun, beban pokok pendapatan turun 11,88 persen, dari US$554,36 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$488,50 juta pada kuartal I/2019. Dari itu, laba periode berjalan turun 76,07 persen, dari US$73,60 juta pada kuartal I/2018 menjadi US$17,61 juta pada kuartal I/2019.

Manajemen TPIA menjelaskan pendapatan bersih yang turun akibat dari harga jual rata-rata yang lebih rendah, terutama untuk olefins, polyolefins, dan styrene monomer sejalan dengan pergerakan harga pasar. Misalnya, harga styrene monomer turun menjadi US$1.041 per metrik ton pada kuartal I/2019, dari US$1.127 per metrik ton pada kuartal IV/2018.

Penjualan styrene monomer berkontribusi 17,49 persen terhadap pendapatan perseroan. Adapun, penjualan terbesar masih dikontribusikan dari segmen usaha polyolefins sebesar 48,08 persen, disusul olefins sebesar 23,83 persen.

Sementara itu, beban pokok pendapatan yang turun karena biaya bahan baku yang lebih rendah, terutama naphtha yang turun dari US$603 per metrik ton pada kuartal I/2018 menjadi rata-rata US$533 per metrik ton pada kuartal I/2019.

Lebih lanjut, laba bersih setelah pajak yang tertekan sebagian besar disebabkan laba kotor yang lebih rendah, biaya keuangan yang lebih tinggi, dan bagian rugi bersih entitas asosiasi.

Meski kinerja perseroan tertekan pada kuartal I/2019, direktur TPIA Suryandi berpendapat perseroan telah mengawali tahun ini secara kuat dalam konteks tantangan industri yang lebih luas.

“Kami mencatat 26 juta jam kerja tanpa lost time accident, sebuah catatan keselamatan baru. Pabrik polyethylene 400 KTA (kilotons per annum) baru akan selesai dan beroperasi sesuai rencana pada akhir tahun ini bersama dengan debottlenecking pabrik polypropylene untuk lebih meningkatkan skala ekonomi perseroan,” terangnya dalam keterbukaan informasi.

Suryandi menambahkan, permintaan terhadap produk perseroan tetap menguat untuk memenuhi pasar domestik Indonesia yang kekurangan secara struktural. Meski kondisi pasar yang menantang telah menekan harga jual rata-rata produk, perseroan tetap menghasilkan margin EBITDA dua digit yakni 12 persen.

“Margin petrokimia stabil setelah mengalami volatilitas yang signifikan pada kuartal IV/2018. Kami mempertahankan neraca yang sangat kuat dengan utang bersih ke EBITDA 0,5 kali, dan likuiditas yang sangat baik dengan kas dan setara kas US$547,8 juta,” imbuhnya.

Sementara itu, ketidakpastian ekonomi makro global tetap ada karena kekhawatiran yang berlarut-larut atas perang dagang China-AS, perseroan tetap fokus untuk memberikan pertumbuhan kapasitas, mempertahankan fleksibilitas keuangan sepanjang siklus, dan mempertahankan keunggulan operasional selama periode 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, tpia

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top