AS Sebut Tak Ada Perubahan Dalam Pengetatan Sanksi Iran

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat berusaha meredam spekulasi bahwa pemerintahan Trump melonggarkan larangan terhadap ekspor minyak Iran setelah program penundaan sanksi berakhir pada 2 Mei.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 31 Mei 2019  |  08:21 WIB
AS Sebut Tak Ada Perubahan Dalam Pengetatan Sanksi Iran
Bendera Iran berkibar di lapangan minyak Soroush di Teluk Persia, Iran, Senin (25/7/2005), - Reuters/Raheb Homavandi

Bisnis.com, JAKARTA – Departemen Luar Negeri Amerika Serikat berusaha meredam spekulasi bahwa pemerintahan Trump melonggarkan larangan terhadap ekspor minyak Iran setelah program penundaan sanksi berakhir pada 2 Mei.

Brian Hook, perwakilan khusus AS untuk Iran mengatakan keputusan pemerintah untuk tidak memperpanjang keringanan pembatasan ekspor selama enam bulan sudah final dan perdagangan di masa depan akan dikenakan sanksi.

AS sebelumnya telah memberikan keringanan, yang dikenal sebagai pengecualian pengurangan yang signifikan, kepada delapan negara pada November, yaitu China, India, Korea Selatan, Jepang, Turki, Taiwan, Yunani, dan Italia.

"Kebijakan tegas kami adalah pembatasan pembelian minyak Iran sepenuhnya, titik," kata Hook, seperti dikutip Bloomberg.

"Setiap pembelian minyak baru yang dimulai setelah berakhirnya keringanan apada 2 Mei akan dikenakan sanksi oleh AS, bahkan jika suatu negara belum memenuhi batas pembelian yang dinegosiasikan sebelumnya selama periode keringanan dari November hingga 2 Mei,” lanjutnya.

Pernyataan itu dimaksudkan untuk mengklarifikasi komentar yang dibuat Hook pada saat briefing telepon dengan wartawan Kamis pagi. Pernyataan itu ditafsirkan sebagai mengatakan AS mungkin mengijinkan negara-negara untuk tetap membeli minyak Iran setelah 2 Mei asalkan mereka tetap di bawah batas yang AS tetapkan.

Selama berminggu-minggu, pedagang minyak telah bertanya seberapa tangguh posisi AS sebenarnya dan apakah akan ada celah untuk pembeli minyak mentah Iran setelah keputusan untuk mengakhiri keringanan sebagai bagian dari kampanye "tekanan maksimum" pemerintah.

Presiden Donald Trump mengumumkan pada akhir April bahwa AS mengakhiri program keringanan karena berupaya mengisolasi Iran dan membuat perjanjian baru setelah mengabaikan kesepakatan nuklir 2015 tahun lalu. Trump berargumen bahwa kesepakatan sebelumnya gagal membatasi program nuklir Iran atau apa yang disebut AS sebagai kegiatan memfitnahnya di Timur Tengah.

Sebagian pertanyaan terfokus pada pernyataan yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo pada bulan April bahwa beberapa transaksi “insidentil” mungkin masih diperbolehkan.

Tidak ada celah

Para pejabat telah lama mengatakan transaksi itu adalah sebagian kecil dari keseluruhan perdagangan minyak dan tidak dimaksudkan untuk memberikan celah. Pernyataan tersebut berusaha untuk mengklarifikasi lebih lanjut dengan mengatakan satu-satunya pengecualian yang mungkin untuk posisi itu adalah untuk minyak yang sudah dalam perjalanan ke tujuannya sebelum keringanan berakhir.

"Jika minyak dibeli, dimuat, dan dalam perjalanan ke negara tujuan sebelum berakhirnya pengecualian pengurangan pada 2 Mei, kargo-kargo ini tidak akan melebihi batas yang disepakati untuk impor minyak mentah Iran yang dinegosiasikan berdasarkan keringanan yang sekarang telah habis masa berlakunya," Kata Hook.

Kemudian pada Kamis, Pompeo mengatakan bukti yang dia lihat menunjukkan bahwa Iran berada di belakang serentetan serangan kapal tanker minyak awal bulan ini. Dia menggemakan pernyataan Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton, yang juga mengatakan bahwa Iran yang harus disalahkan.

Bolton "benar," kata Pompeo kepada wartawan yang terbang bersamanya ke Berlin. "Ini adalah upaya Iran untuk menaikkan harga minyak mentah di seluruh dunia."

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi menyebut tuduhan Bolton "menggelikan" dan bagian dari rencana "destruktif" dari lawan-lawan Iran, kantor berita Mehr yang dikelola pemerintah melaporkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
iran, amerika serikat, minyak mentah, Donald Trump

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup