Bursa Asia Memerah, IHSG Bertahan Kuat Pada Akhir Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan reboundnya dan menguat lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (29/5/2019).
Renat Sofie Andriani | 29 Mei 2019 13:03 WIB
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mempertahankan rebound-nya dan menguat lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (29/5/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG menguat 1,03 persen atau 61,93 poin ke level 6.095,07 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (28/5), IHSG ditutup merosot 1,08 persen atau 65,83 poin di level 6.033,14.

Indeks mulai bangkit dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,44 persen atau 26,39 poin di posisi 6.059,53. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.054,57 – 6.100,46.

Delapan dari sembilan sektor menetap di zona hijau, dipimpin sektor infrastruktur (+2,59 persen) dan aneka industri (+1,79 persen). Adapun sektor tambang turun 0,17 persen.

Sebanyak 202 saham menguat, 146 saham melemah, dan 285 saham stagnan dari 633 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang masing-masing naik 2,89 persen dan 3,52 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG siang ini.

Berbanding terbalik dengan IHSG, indeks saham lainnya di Asia mayoritas melemah. Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 1 persen dan 1,25 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 1,03 persen pada pukul 12.34 WIB.

Di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing turun 0,02 persen dan 0,38 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,1 persen.

Dilansir Reuters, bursa saham Asia merosot sementara obligasi menguat seiring dengan memburuknya sentimen investor karena kekhawatiran yang tumbuh tentang tensi perdagangan Amerika Serikat-China tidak menunjukkan tanda-tanda pelonggaran.

Pada Senin (27/5), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemerintah AS belum siap untuk membuat kesepakatan dengan China. Pada saat yang sama, Trump menekan Jepang untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangannya dengan Amerika Serikat.

Kekhawatiran seperti itu telah menyebabkan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun jatuh sekitar 10 basis poin ke bawah tingkat dalam tiga bulan, inversi yang biasanya dipandang sebagai indikator utama resesi.

“Apa yang saya lihat lebih konsisten adalah bahwa biasanya ketika kurva hasil membalik Anda mendapatkan pelonggaran oleh bank sentral. Jadi pertanyaan tentang resesi adalah apakah The Fed AS akan cukup mudah untuk menghindari resesi?” kata Chris Rands, manajer portofolio pendapatan tetap berbasis di Sydney di Nikko Asset Management.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top