Volume Perdagangan Tipis, Bursa Asia Kurang Bergairah

Bursa Asia membukukan kenaikan moderat pada perdagangan siang ini, Selasa (28/5/2019), di tengah volume perdagangan yang tipis karena libur Memorial Day di Amerika Serikat (AS).
Renat Sofie Andriani | 28 Mei 2019 13:25 WIB
Indeks Bursa Jepang - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia membukukan kenaikan moderat pada perdagangan siang ini, Selasa (28/5/2019), di tengah volume perdagangan yang tipis karena libur Memorial Day di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific dan Topix Jepang kompak naik 0,4 persen masing-masing pada pukul 2.13 siang waktu Tokyo (pukul 12.13 siang WIB).

Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,5 persen, indeks Kospi Korea Selatan bergerak flat, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,6 persen, dan indeks Shanghai Composite menanjak 0,9 persen.

Bursa saham di Jepang, China, dan Hong Kong naik moderat di tengah volume perdagangan yang lebih rendah dari biasanya karena tutupnya aktivitas pasar di AS dan Inggris pada Senin (27/5). Meski demikian, indeks futures AS dan Eropa mengindikasikan kenaikan.

Pernyataan Presiden Donald Trump pada Senin bahwa AS "tidak siap" untuk mencapai kesepakatan perdagangan dengan China tak banyak mempengaruhi pasar hari ini.

Sebelumnya, bursa saham Eropa menguat bersama obligasi pascapemilihan parlemen Uni Eropa, sedangkan nilai tukar pound sterling Inggris melemah ke bawah US$1,27 di tengah persaingan sejumlah nama untuk menjadi perdana menteri Inggris berikutnya.

Para pelaku pasar saat ini menantikan petunjuk-petunjuk baru setelah konfrontasi perdagangan AS-China dan sejumlah data ekonomi yang lesu mendorong bursa saham global ke jalur penurunan bulanan pertamanya pada 2019.

Trump tidak memberikan indikasi pelonggaran dalam tensinya dengan China. Dalam kunjungan kenegarannya ke Jepang, ia menyatakan bahwa tarif terhadap barang-barang asal China bisa naik dengan besar dan mudah.

“Anda mungkin akan terus-menerus melihat gesekan dalam hubungan AS - China bahkan jika perang tarif mereda,” ujar Catherine Yeung, Direktur Fidelity International Investment dalam sebuah wawancara di Bloomberg TV.

“Gesekan atas manufaktur-manufaktur terkemuka kemungkinan akan membebani sentimen pasar dalam jangka panjang,” tambahnya, tentang fokus pasar pada langkah pemerintahan Trump memutuskan bisnis AS dengan perusahaan-perusahaan teknologi China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, indeks topix

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top