Perang Dagang dengan China, AS akan Kehilangan Pasar Ekspor Kedelai

Amerika Serikat kemungkinan akan kehilangan pasar ekspor kedelai mereka secara permanen di China, sejalan dengan lambannya pembicaraan perdagangan AS dan Negeri Panda tersebut.
Dika Irawan | 18 Mei 2019 16:59 WIB
Perang dagang AS-China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Amerika Serikat kemungkinan akan kehilangan pasar ekspor kedelai mereka secara permanen di China, sejalan dengan lambannya pembicaraan perdagangan AS dan Negeri Panda tersebut.

Demikian menurut Direktur Senior Pemasaran Dewan Ekspor Kedelai AS (USSEC) Paul Burke, Jumat (17/5/2019) waktu setempat, dikutip dari Reuters, Sabtu (18/5/2019).

Selain itu China juga tak akan pernah kembali mencapai rekor volume impor kedelai AS seperti yang terjadi pada 2016. “Bahkan jika pembicaraan kedua negara segera selesai [rekor tersebut tak pernah terulang],” katanya.

Di samping itu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, juga berencana memberikan paket bantuan sekitarUS$15 miliar hingga US$20 miliar kepada para petani mereka yang dilanda perang dagang dengan China.

Sekretaris Menteri Pertanian AS Sonny Perdue, Rabu (15/5) waktu setempat, mengatakan, pihaknya tengah menyelesaikan mekanisme bantuan itu. Kemungkinan, pemerintah akan memprioritaskan para peternak babi dan petani kedelai sebagai penerima bantuan. Sebab itulah produk-produk pertanian yang paling terpengaruh sengketa dagang China dan Amerika Serikat.

“Saat ini kami sedang mengerjakan rincian sumber dana yang kami asumsikan akan mirip dengan [bantuan] lalu dengan Commodity Credit Corporation [CCC],” kata Perdue seperti dikutip dari Reuters, Kamis (16/5/2019).

Sebagai informasi CCC merupakan lembaga pemerintah AS yang bertugas untuk stabilisasi, mendukung, dan melindungi pemasukan dan harga pertanian.

Dua raksasa ekonomi tersebut telah terlibat dalam perang dagang selama 10 bulan. Menelan biaya miliaran dolar AS, perang itu telah membuat rantai pasokan global bergejolak dan pasar keuangan kacau.

Para petani AS, yang turut mengantarkan Donald Trump ke tampuk kursi Presiden AS pada 2016, merupakan salah satu pihak yang paling terpukul dari ribut-ribut sengketa dagang itu.

Pada tahun lalu, Departemen Pertanian AS (US Department of Agriculture/USDA) menjanjikan bantuan hingga US$12 miliar kepada para petani, guna mengganti kerugian panen akibat perang dagang. Pemerintah AS telah mengalokasikan sekitar US$9,4 miliar, dengan US$8,52 miliar pembayaran langsung kepada petani.

Para petani telah komplain tentang lambannya langkah pembayaran dari paket sebelumnya. Batas waktu untuk permohonan pembayaran pun diperpanjang bulan lalu hingga 17 Mei.

AS menaikkan tarif barang-barang China senilai US$200 miliar pada Jumat lalu. Hal itu meningkatkan sengketa perdagangan, saat putaran terakhir perundingan di Washington berakhir tanpa kemajuan. Beijing merespons dengan tarif pembalasan. Eskalasi parang dagang kemungkinan belum berakhir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kedelai, perang dagang AS vs China

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top