Neraca Dagang April Defisit, IHSG Merosot 1 Persen pada Akhir Sesi I

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (15/5/2019), pascarilis data neraca perdagangan bulan April.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Mei 2019  |  12:47 WIB
Neraca Dagang April Defisit, IHSG Merosot 1 Persen pada Akhir Sesi I
Karyawan memantau pergerakan Indeks harga saham gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan manajer investasi, di Jakarta, Selasa (8/1/2019). - Bisnis/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Rabu (15/5/2019), pascarilis data neraca perdagangan bulan April.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG merosot 1,01 persen atau 61,35 poin ke level 6.009,85 pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Selasa (14/5), IHSG ditutup melemah 1,05 persen atau 64,19 poin di level 6.071,2.

Sebelum berbalik melemah, indeks sempat rebound ke zona hijau dengan dibuka naik 0,34 persen atau 20,44 poin di level 6.091,64 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.005,27 – 6.107,44.

Seluruh sembilan sektor menetap di zona merah, dipimpin sektor aneka industri (-1,61 persen), properti (-1,48 persen), dan barang konsumsi (-1,26 persen).

Sebanyak 120 saham menguat, 248 saham melemah, dan 264 saham stagnan dari 632 saham yang diperdagangkan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 2,72 persen dan 0,82 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG siang ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia berbalik negatif dengan defisit mencapai US$2,5 miliar. Menurut BPS, defisit April ini merupakan yang terbesar sejak Juli 2013.

Defisit ini disebabkan oleh posisi neraca ekspor yang tercatat senilai US$12,60 miliar atau lebih rendah dibandingkan nilai neraca impor yang mencapai US$15,10 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto melihat defisit yang mencapai US$2,5 miliar ini disebabkan oleh defisit pada neraca migas yang senilai US$1,49 miliar.

"Hal ini disebabkan karena hasil minyak yang mengalami defisit lumayan dalam," ungkap Suhariyanto, Rabu (15/5). Hasil minyak per April 2019 mengalami defisit hingga US$1,32 miliar.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah melemah 11 poin atau 0,08 persen ke level Rp14.445 per dolar AS pukul 11.35 WIB.

Meski demikian, indeks saham lainnya di Asia mayoritas mampu menguat siang ini, di antaranya indeks FTSE Malay KLCI (+0,90 persen), indeks SE Thailand (+0,08 persen), dan indeks PSEi Filipina (+0,54 persen).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing naik 0,27 persen dan 0,28 persen, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,77 persen, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China menanjak 1,14 persen dan 1,40 persen masing-masing.

Bursa Asia rebound dari level terendahnya dalam tiga setengah bulan, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan retorika yang membantu meredakan kekhawatiran tentang perang dagang AS-China.

Pada Selasa (14/5), Trump mengungkapkan telah berdialog dengan "sangat baik" bersama China. Trump juga menegaskan bahwa perundingan antara dua ekonomi terbesar dunia ini belum runtuh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top