Pemerintah Siap Terbitkan SR-011, Ini Proyeksi Analis

Sejumlah analis meyakini permintaan atas instrumen sukuk ritel seri SR-011 akan lebih baik dibandingkan seri SR-010
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  21:24 WIB
Pemerintah Siap Terbitkan SR-011, Ini Proyeksi Analis
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA--Sejumlah analis meyakini permintaan atas instrumen sukuk ritel seri SR-011 akan lebih baik dibandingkan seri SR-010 maupun dua seri SBN ritel yang terbit di dua bulan terakhir.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengekspektasikan kupon SR-011 masih  cukup tinggi, yakni 8,15% atau sama seperti kupon dua seri SBN ritel yang terbit di awal tahun ini.

Menurutnya, bila benar tingkat kupon yang diberikan tetap sebesar 8,15%, instrumen ini akan cukup menarik. Sebagai pembanding, obligasi negara seri fixed rate tenor 3 tahun kini bergerak di kisaran 7,35%, sedangkan tenor 10 tahun di kisaran 7,88%. Selain itu, deposito 1 tahun bunganya kini sekitar 6,5%.

Kendati tren permintaan investor ritel pada dua seri SBN ritel di awal tahun ini menunjukkan penurunan, Anup memperkirakan pemasaran SR-011 akan lebih sukses. Selain karena karakternya yang bisa ditransaksikan di pasar sekunder, penerbitan instrumen ini juga didukung oleh jatuh temponya seri SR-008 yang terbit pada 2016 lalu dengan nilai Rp31,5 triliun.

Kupon SR-008 dulu ditetapkan sebesar 8,3%. Bila pemerintah memberikan kupon SR-011 sebesar 8,15%, maka sebagian besar dana jatuh tempo SR-008 berpotensi diinvestasikan kembali ke instrumen SR-011 ini sebab kuponnya tidak jauh berbeda.

“Kemungkinan kita bisa melihat penerbitan baru SR-011 dengan nilai sebesar Rp25 triliun hingga Rp40 triliun karena kuponnya juga diekspektasikan di level 8,15%,” katanya, Selasa (26/2/2019).

Selain itu, Anup juga memperkirakan dana masyarakat akan lebih banyak pada bulan Maret dan April sebab ditopang oleh adanya masa panen raya, bonus tahunan hasil usaha 2018, atau dividen emiten 2018.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa bila menimbang kondisi di pasar sekunder kini yang mana menunjukkan adanya tren penurunan yield, kupon SR-011 kemungkinan akan sedikit turun dibandingkan dua seri sebelumnya tahun ini, tetapi masih di kisaran 8%. Paling rendah kemungkinan 7,9%.

Dirinya juga meyakini permintaan atas instrumen ini akan cukup tinggi, antara Rp20 triliun hingga Rp25 triliun karena adanya jatuh tempo yang besar. Ini lebih tinggi dibandingkan penerbitan SR-010 tahun lalu yang hanya mendulang Rp8,44 triliun karena kuponnya sangat rendah, yakni hanya 5,90%.

Ramdhan mengatakan, pembeli instrumen SBN ritel tradable seperti SR atau obligasi ritel Indonesia (ORI) sering kali tidak benar-benar investor ritel, melainkan ada investor institusi di baliknya. Hal ini menjadi alasan di balik kecenderungan minat yang lebih tinggi pada SR dan ORI dibandingkan SBR dan ST.

Kendati masuk dengan nama investor individu, nantinya setelah masa holding periode selama 1 bulan berakhir, insturmen tersebut segera terkonversi kepemilikannya dari ritel menjadi institusi. Potensi permintaan terhadap SR-011 ini bisa jadi akan tinggi, sebab kondisi pasar kini cenderung menguat karena isu damai dagang semakin kuat.

Selain kupon SR-011 akan lebih tinggi dibandingkan SUN konvensional tenor yang sama (3 tahun), adanya kemungkinan penguatan pasar menyebabkan investor berpotensi menikmati keuntungan investasi dari capital gain yang cukup tinggi melalui instrumen ini.

“Kalau banyak investor yang beranggapan market akan membaik dalam 1-2 bulan ke depan, permintaannya pasti akan tinggi sekali. Mereka umumnya sudah punya hitung-hitungannya. Tinggal tunggu setelah holding periode berakhir, instrumen ini sudah bisa ditransaksikan di pasar sekunder untuk direalisasikan keuntungannya,” katanya.

Tingginya optimisme pasar terlihat pula dari penawaran investor pada lelang SUN pekan ini yang mencapai rekor senilai Rp93,93 triliun. Pemerintah hanya memenangkan senilai Rp22 triliun, sehingga masih ada kelebihan likuditas yang tinggi di pasar

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sukuk

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup