Australia Keluhkan Lamanya Pemrosesan Batu Bara di Pelabuhan China

Pemerintah Australia mengeluhkan lamanya pemrosesan batu bara di pelabuhan-pelabuhan China. Mereka pun tengah meminta klarifikasi para pejabat di Canberra dan Beijing terkait hal tersebut
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  14:15 WIB
Australia Keluhkan Lamanya Pemrosesan Batu Bara di Pelabuhan China
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang - ilustrasi/JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah Australia mengeluhkan lamanya pemrosesan batu bara di pelabuhan-pelabuhan China. Mereka pun tengah meminta klarifikasi para pejabat di Canberra dan Beijing terkait hal tersebut.

Menteri Perdagangan Australia Simon Birmingham mengatakan, waktu pemrosesan untuk pengiriman batu bara Australia telah meningkat menjadi hampir 40 hari, dari sekitar 25 hari.  Menurutnya hal tersebut tidak pernah terjadi sebelumnya.

Demikian pernyataannya kepada Sky New’s Speers, Minggu (24/2) waktu setempat.

Penundaan itu telah memunculkan kekhawatiran sebagai reaksi China terhadap pelarangan Huwaei Technologies oleh Australia, sehingga dapat mengguncang pasar batu bara global dan membebani dolar Australia.

“Masalah domestik China termasuk masalah lingkungan dan perlindungan industri batu bara lokal juga bisa berperan [dalam hal ini],” katanya, seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (24/2).

Mengenai hal tersebut, Birmingham enggan membesar-besarkannya. Menurutnya kedua negara hingga kini masih memiliki hubungan dagang yang baik.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan, spekulasi bahwa masalah penundaan tersebut karena pertengkaran diplomatik tidak membantu.

 “Saya pikir risiko besar dari hal tersebut akan menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran di sektor pertambangan dan sumber daya kami,” katanya kepada Australian Associated Press, mengutip dari Bloomberg.

Sementara itu, pada Jumat (22/), Kementerian Luar Negeri China menyatakan tidak ada larangan impor batu bara dari Australia. Untuk lamanya proses administrasi karena upaya pejabat bea cukai untuk menganalisis dan memantau kualitas batu bara impor.

Sebelumnya, laporan mengenai polemik impor batu bara Australia ke China ini dinilai tidak begitu berdampak pada pasar.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (22/2), harga batu bara kokas keras premium di pasar spot yang dikirim dari Australia naik 3,8% pada Kamis (21/2) menjadi US$215,09 per ton, tertinggi sejak 2 januari. Demikian menurut perusahaan penyedia data Fastmarkets MB.

Kabar pelarangan impor batu bara Australia ke China mengemuka, setelah Reuters melaporkan, pelabuhan Dalian, di Negeri Panda itu melarang impor komoditas tersebut.

Hal tersebut juga sehari setelah pasar dilanda pengurangan pasokan oleh Anglo American Plc yang menutup tambang produksi terbesarnya di Queensland, Australia.

Daniel Hynes, analis di Australia & New Zealand Banking Group Ltd mengatakan, jika terdapat larangan batu bara kokas, maka seharusnya berpengaruh pada pasar. Namun, katanya, sejauh ini bukan hal tersebut persoalannya.

“Batu bara kokas premium sebenarnya naik [harganya]. Obroal kami dengan klien dan orang-orang kami di lapangan menunjukkan bahwa [impor] batu bara masih berjalan,” katanya sambungan telepon, mengutip dari Bloomberg, Jumat (22/2).

Australia merupakan produsen  batu bara termal terbesar kedua di dunia, setelah Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Perindustrian, Inovasi, dan Sains Australia, volume ekspor batu bara termal negara tersebut diproyeksikan mencapai 209 juta ton pada periode 2019-2020. Adapun pada periode 2017-2018, volume ekspornya mencapai 203 juta ton. 

China menjadi salah satu negara tujuan ekspor terbesar batu bara Australia. Volume ekspor komoditas itu ke China mencapai 30 juta ton pada 2017-2018, tumbuh tipis 3,4% dibandingkan volume ekspor 2016-2017 sebesar 29 juta ton.

Dalam laporan itu disebutkan, ekspor batu bara ke China melambat pada September dan Oktober tahun lalu disebabkan oleh pembatasan impor, depresiasi yuan, dan rebound dalam produksi domestik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batu bara

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top