Harga Karet Akhiri Reli Penguatan Empat Hari, Ini Sentimen Penekannya

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juni 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup melemah 1,35% atau 2,50 poin di level 183,20 yen per kg.
Aprianto Cahyo Nugroho | 10 Januari 2019 15:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga karet mengakhiri reli penguatan empat hari berturut-turut setelah ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (10/1/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga karet untuk kontrak teraktif Juni 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), ditutup melemah 1,35% atau 2,50 poin di level 183,20 yen per kg.

Harga karet sebelumnya dibuka stagnan, setelah pada perdagangan Rabu (9/1/2019), karet ditutup menguat 2,26% atau 4,1 poin ke level 185,70 yen per kg.

Sejalan dengan harga karet Tokyo, harga karet untuk kontrak teraktif Mei 2019 di Shanghai Futures Exchange ditutup melemah 0,76% atau 90 poin di 11.675 yuan per ton.

Dilansir Bloomberg, harga karet menghentikan kenaikan beruntun empat hari karena optimisme pembicaraan perdagangan AS-China memudar.

Gu Jiong, analis di broker komoditas Yutaka Shoji mengatakan pasar memiliki ekspektasi tinggi untuk diskusi antara AS dan China, tetapi belum ada berita positif yang signifikan hingga saat ini.

“Pelaku pasar dengan posisi beli melakukan profit taking, sehingga menekan harga. Harga karet juga mengalami koreksi teknis karena harga ‘terlalu panas’ baru-baru ini,” katanya, seperti dikutip Bloomberg.

Sementara itu, Avtar Sandu, manajer senior untuk komoditas di Phillip Futures Pte mengatakan investor juga sedang menunggu pertemuan antara pejabat dari Thailand, Indonesia dan Malaysia untuk membahas langkah-langkah dukungan harga.

 

Pergerakan Harga Karet Kontrak Juni 2019 di Tocom

Tanggal

Harga (Yen/Kg)              

Perubahan

10/1/2019

183,20

-1,35

9/1/2019

185,70

+2,26

8/1/2019

181,60

+2,43%

7/1/2019

177,30

+0,17%

Sumber: Bloomberg                         

Tag : harga karet
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top