MNC Sekuritas: Harga SUN Ditopang Katalis Positif Dalam dan Luar Negeri

MNC Sekuritas memperkirakan pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018) harga Surat Utang Negara kembali berpotensi mengalami kenaikan didukung oleh katalis dari dalam dan luar negeri.
Emanuel B. Caesario | 03 Desember 2018 09:00 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - MNC Sekuritas memperkirakan pada perdagangan hari ini, Senin (3/12/2018) harga Surat Utang Negara kembali berpotensi mengalami kenaikan didukung oleh katalis dari dalam dan luar negeri.

I Made Adi Saputra, Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan data inflasi bulan November 2018 yang akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik.

Konsensus analis memperkirakan bahwa pada bulan November 2018 terjadi inflasi bulanan (MoM) sebesar 0,19% dengan inflasi tahunan (YoY) sebesar 3,19%.

"Inflasi yang terkendali akan menjadi katalis positif bagi pasar surat utang," katanya dalam riset harian, Senin (3/12/208).

Sementara itu, dari faktor eksternal, meredanya ketegangan perang dagang antara China dan Amerika akan menjadi katalis positif bagi pasar keuangan global yang Made perkirakan juga akan berdampak terhadap pasar keuangan domestik.

"Penurunan tingkat imbal hasil US Treasury untuk tenor 10 tahun di bawah level 3,00% akan menjadi katalis bagi pasar Surat Berharga Negara terutama pada Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang Dollar Amerika," katanya.

Review Perdagangan Jumat Pekan Lalu

Harga Surat Utang Negara pada perdagangan di hari Jumat, 30 November 2018 melanjutkan tren kenaikan harga yang didorong oleh faktor penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.

Menutup perdagangan di akhir bulan November 2018, harga Surat Utang Negara ditutup dengan kecenderungan mengalami kenaikan hingga mencapai 85 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 11 bps dengan rata - rata mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 3 bps.

Kenaikan harga yang terbatas, kurang dari 5 bps didapati pada Surat Utang Negara bertenor pendek sehingga tingkat imbal hasilnya juga mengalami penurunan yang terbatas kurang dari 5 bps.

Sedangkan harga Surat Utang Negara dengan tenor menengah terlihat mengalami kenaikan berkisar antara 7 bps hingga 15 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya hingga sebesar 3 bps.

Sementara itu, kenaikan harga yang cukup besar didapati pada Surat Utang Negara dengan tenor panjang, yaitu hingga mencapai 85 bps yang mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil hingga sebesar 11 bps.

Kenaikan harga juga mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara seri acuan, dimana untuk tenor 5 tahun, 15 tahun dan 20 tahun masing - masing mengalami penurunan tingkat imbal hasil sebesar 2 bps berturut - turut di level 7,783%; 8,062% dan 8,172%.

Adapun untuk seri acuan dengan tenir 10 tahun mengalami penurunan imbal hasil sebesar 1 bps di level 7,820% setelah mengalami kenaikan harga sebesar 8 bps.

Kenaikan harga yang terjadi dalam perdagangan sepekan terakhir telah mendorong penurunan imbal hasil Surat Utang Negara rata - rata sebesar 9,5 bps dengan penurunan imbal hasil terbesar hingga mencapai 18,5 bps.

Kenaikan harga Surat Utang Negara pada perdagangan di akhir pekan kemarin masih didukung oleh faktor penguatan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika serta penurunan imbal hasil surat utang global.

Selain itu, kenaikan harga juga akan didukung oleh aktivitas pelaku pasar yang berupaya untuk menjaga kinerja portofolio mereka pada hari perdagangan terakhir di bulan November.

Dengan kenaikan harga yang terjadi pada akhir pekan kemarin, maka di sepanjang bulan November 2018, instrumen Surat Berharga Negara memberikan tingkat imbalan (total return) kepada investor sebesar 4,47% yang tercermin pada kenaikan indeks INDOBeX Government Total Return sebesar 10,10 pts di level 236,20.

Hanya saja kinerja instrumen Surat Berharga Negara di tahun 2018 masih mencatatkan kinerja negatif, dengan mengalami penurunan sebesar 1,66% dibandingkan di posisi akhir tahun 2017.

Adapun di pasar surat utang korporasi, di bulan November mencatatkan kinerja positif sebesar 2,42% dengan INDOBeX Corporate Total Return berada di level 261,29 mengalami kenaikan sebesar 6,17 pts dibandingkan dengan posisi di akhir bulan Oktober 2018.

Surat utang korporasi di tahun 2018 masih memberikan imbal hasil positif dengan mengalami kenaikan INDOBeX Corporate Total Return sebesar 3,25%. Kenaikan harga pada perdagangan terakhir di bulan November 2018 juga didukung oleh volume perdagangan yang cukup besar, senilai Rp13,66 triliun.

Harga Surat Utang Negara dengan mata uang dollar Amerika pada perdagangan kemarin juga terlihat mengalami kenaikan seiring dengan penurunan imbal hasil US Treasury dan turunnya angka Credit Default Swap (CDS) yang mencerminkan membaiknya persepsi risiko terhadap instrumen Surat Utang Negara.

Hanta saja, kenaikan harga yang terjadi pada Surat Utang Negara dengan denominasi mata uang dollar Amerika tidak sebesar yang terjadi pada Surat uatng Negara dengan mata uang rupiah.

Harga dari INDO23 mengalami kenaikan sebesar 6 bps yang menyebabkan penurunan imbal hasilnya sebesar 1,5 bps di level 4,303%.

Kenaikan harga yang lebih besar didapati pada INDO43 yang mengalami kenaikan sebesar 15 bps sehingga mendorong terjadinya penurunan tingkat imbal hasilnya sebesar 1 bps di level 5,401%.

Volume perdagangan Surat Berharga Negara yang dilaporkan pada perdagangan kemarin senilai Rp13,66 triliun dari 44 seri Surat Berharga Negara yang diperdagangkan dengan volume perdagangan seri acuan mencapai Rp2,47 triliun.

Obligasi Negara seri FR0078 masih menjadi Surat Utang Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp2,135 triliun dari 61 kali transaksi dengan harga terakhir perdagangan di level 102,80% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Negara seri FR0070 senilai Rp1,714 triliun dari 28 kali transaksi dengan harga terakhir perdagangan di level 101,85%.

Sementara itu, Project Based Sukuk seri PBS014 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp90,00 miliar dari 9 kali transaksi di harga rata - rata 97,02% yang diikuti oleh perdagangan PBS017 senilai Rp90,00 miliar dari 6 kali transaksi di harga rata - rata 88,07%.

Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp685,89 miliar dari 33 seri surat utang korporasi yang diperdagangkan.

Obligasi Berkelanjutan I XL Axiata Tahap I Tahun 2018 Seri B (EXCL01BCN1) menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, senilai Rp146,00 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata - rata 100,07% yang diikuti oleh perdagangan Obligasi Berkelanjutan IV BFI Finance Indonesia Tahap I Tahun 2018 Seri B (BFIN04BCN1) senilai Rp130,00 miliar dari 2 kali transaksi di harga terakhir 100,15%.

Nilai tukar Rupiah pada perdagangan di akhir pekan ditutup menguat sebesar 81,00 pts (0,56%) di level 14301,50 per Dollar Amerika.

Bergerak dengan mengalami penguatan sepanjang sesi perdagangan pada kisaran 14276,50 hingga 14355,00 per dollar Amerika, mata uang rupiah memimpin penguatan mata uang regional yang bergerak bervariasi terhadap dollar Amerika.

Selain rupiah, mata uang regional yang mengalami penguatan terhadap dollar Amerika di akhir pekan kemarin adalah baht Thailand (THB) sebesar 0,20% dan diikuti oleh rupee India (INR) sebesar 0,07%.

Adapun mata uang won Korea Selatan (KRW) memimpin pelemahan mata uang regional, sebesar 0,13% yang diikuti oleh pelemahan mata uang dollar Taiwan (TWD) sebesar 0,06% dan dollar Singapura (SGD) sebesar 0,06%.

Dalam sepekan mata uang rupiah telah mengalami penguatan sebesar 1,66%, menjadikan mata uang rupiah menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan regional, yang diikuti oleh mata uang rupee sebesar 1,30% dan won sebesar 0,87%.

Sedangkan sepanjang bulan November 2018, mata uang rupiah mencatatkan penguatan sebesar 6,30% yang juga diikuti oleh mata uang rupee sebesar 5,97%.

Imbal hasil surat utang global pada perdagangan di akhir pekan ditutup dengan arah perubahan yang bevariasi.

Imbal hasil dari surat utang Inggris ditutup turun di level 1,356% sementara itu imbal hasil surat utang Jerman ditutup dengan kenaikan di level 0,322% di tengah fokus investor pada pelaksanaan KTT G-20 di akhir pekan.

Adapun imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun dan tenor 30 tahun ditutup dengan penurunan, masing - masing di level 2,993% dan 3,294% sebagai respon atas pidato Gubernur Bank Sentral Amerika yang menyatakan bahwa tingkat suku bunga acuan Amerika saat ini berada sedikit di bawah level yang netral untuk ekonomi Amerika, mengindikasikan bahwa ke depannya Bank Sentral Amerika tidak akan terlalu agresif untuk menaikkan suku bunga acuan.

Imbal hasil surat utang Philippina pada akhir pekan juga terlihat mengalami penurunan di level 6,961%.

Tag : sun
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top