MNC Sekuritas: Harga SUN Berpotensi Terdongkrak Penurunan Yield Global

MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (30/11/2018), seiring dengan turunnya imbal hasil surat utang global.
Emanuel B. Caesario | 30 November 2018 08:42 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- MNC Sekuritas memperkirakan harga Surat Utang Negara (SUN) masih berpeluang untuk mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (30/11/2018), seiring dengan turunnya imbal hasil surat utang global. 
 
Kepala Divisi Riset Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan kenaikan harga juga diproyeksi didukung oleh aktivitas pelaku pasar yang bakal menjaga kinerja portofolio mereka pada hari perdagangan terakhir bulan ini.
 
Namun, pelaku pasar perlu mencermati pergerakan nilai tukar rupiah seiring menguatnya dolar AS terhadap mata uang utama dunia.  

Selain itu, notulen Rapat Dewan Gubernur bank sentral AS (FOMC Minutes) pada 7-8 November 2018 mengindikasikan bahwa The Fed kemungkinan masih akan menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat, yang diperkirakan bakal dilakukan pada FOMC Meeting pada Desember 2018 dengan besaran 25 bps.

Dari dalam negeri, hari ini, Bank Indonesia (BI) akan menyampaikan data perkembangan uang beredar pada Oktober 2018.
 
Made masih merekomendasikan strategi trading jangka pendek memanfaatkan momentum tren kenaikan harga SUN di pasar sekunder. 
 
"Seiring dengan semakin terbatasnya perubahan harga SUN, didukung oleh indikator teknikal yang menunjukkan bahwa harga beberapa SUN telah memasuki area jenuh beli (overbought), maka kami menyarankan kepada investor untuk mencermati beberapa seri SUN yang menawarkan tingkat imbal hasil yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan seri lainnya dengan tenor yang sama," paparnya dalam riset harian, Jumat (30/11).
 
Seri-seri tersebut yakni FR0053, FR0061, FR0043, FR0070, FR0042, FR0052, FR0073, FR0058, FR0068, dan FR0045.
 
Pada Kamis (29/11), harga SUN naik didukung oleh menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pidato Gubernur The Fed Jerome Powell yang menyatakan bahwa tingkat suku bunga acuannya sudah mendekati kondisi netral memicu pelemahan dolar AS terhadap mata uang utama dunia.

Kemarin, rupiah bergerak di kisaran Rp14.339-Rp14.465 per dolar AS dan ditutup menguat 146,5 pts atau 1,01% ke level Rp14.382,5 per dolar AS. Rupiah pun menjadi mata uang regional dengan penguatan terbesar kedua setelah mata uang rupee India yang menguat 1,08%.

Dengan demikian, selama lima hari terakhir, rupiah menguat 1,37% terhadap dolar AS.

Adapun kenaikan harga terjadi di hampir seluruh seri SUN dengan kisaran 2-100 bps, sehingga mendorong turunnya yield antara 1-14 bps.
 
Harga SUN dengan tenor pendek mengalami kenaikan hingga 20 bps sehingga imbal hasilnya turun antara 3-9 bps, sedangkan untuk tenor menengah harganya meningkat 15-60 bps sehingga yield turun antara 3-14 bps.
 
Sementara itu, kenaikan harga 5-100 bps pada SUN tenor panjang mendorong penurunan imbal hasil hingga 11 bps.
 
Kenaikan harga juga didapati pada keseluruhan SUN seri acuan, di mana kenaikan harga sebesar 20 bps pada seri acuan dengan tenor 5 tahun mendorong penurunan imbal hasil sebesar 5 bps di level 7,80%. 
 
Untuk seri acuan dengan yenor 10 tahun dan 15 tahun, harganya masing-masing naik 40 bps dan 55 bps. Tingkat imbal hasilnya pun turun 6,5 bps ke level 7,83% untuk tenor 10 tahun dan 7 bps ke level 8,082% untuk tenor 15 tahun. 
 
Untuk seri acuan dengan tenor 20 tahun, harganya meningkat 100 bps sehingga tingkat imbal hasilnya turun 11 bps ke level 8,190%.
 
Investor cukup aktif melakukan transaksi memanfaatkan momentum kenaikan harga SUN yang tercermin pada meningkatnya volume perdagangan Surat Berharga Negara (SBN).
 
Harga SUN berdenominasi dolar AS pada perdagangan kemarin juga terlihat mengalami kenaikan di tengah penurunan imbal hasil US Treasury dan membaiknya persepsi risiko yang tercermin pada penurunan angka Credit Default Swap (CDS). 
 
Harga INDO23 mengalami kenaikan 20 bps yang mendorong terjadinya penurunan imbal hasil sebesar 5,5 bps ke level 4,324%. Harga INDO28 naik 50 bps yang mendorong penurunan yield 7,5 bps ke level 4,766%, sedangkan harga INDO43 naik 80 bps dan membuatnya imbal hasilnya turun 6,5 bps ke level 5,415%.
 
Volume perdagangan SBN yang dilaporkan mencapai Rp11,51 triliun dari 41 seri SBN yang diperdagangkan, dengan volume perdagangan seri acuan yang dilaporkan senilai Rp2,83 triliun. 
 
Obligasi Negara seri FR0078 menjadi SUN dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp2,091 triliun dari 84 kali transaksi dan ditutup di harga 102,60%. Diikuti Obligasi Negara seri FR0077 dengan nilai Rp1,669 triliun dari 66 kali transaksi dengan harga tertinggi di level 101,85%. 
 
Adapun Project Based Sukuk seri PBS017 menjadi Sukuk Negara dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp240 miliar dari 8 kali transaksi di harga rata-rata 87,72%. Diikuti seri PBS012 senilai Rp70 miliar dari 10 kali transaksi di harga rata-rata 100,90%.
 
Dari perdagangan surat utang korporasi, volume perdagangan yang dilaporkan senilai Rp797,80 miliar dari 53 seri surat utang yang diperdagangkan. 
 
Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap III Tahun 2018 Seri A (WSKT03ACN3) dengan peringkat "A-(idn)" menjadi surat utang korporasi dengan volume perdagangan terbesar, yakni Rp111,3 miliar dari 5 kali transaksi di harga rata-rata 100,15%. Diikuti oleh Obligasi Berkelanjutan II Indosat Tahap III Tahun 2018 Seri A (ISAT02ACN3) dengan peringkat "idAAA" senilai Rp100 miliar dari 2 kali transaksi di harga rata-rata 99,26%.
 
Adapun imbal hasil US Treasury dengan tenor 10 tahun ditutup turun di level 3,026%, bahkan sempat berada di level 2,997%, di mana pada tenor 30 tahun tingkat imbal hasilnya justru terlihat mengalami kenaikan terbatas di level 3,339%. 
 
Tingkat imbal hasil dari surat utang Jerman dan Inggris juga ditutup turun masing-masing di level 0,326% dan 1,364% pada perdagangan kemarin.  Sementara itu, surat utang Jepang ditutup turun di level 0,077% dan surat utang Filipina ditutup turun di level 6,961%.
 
Kenaikan harga SUN pada perdagangan kemarin kembali mendorong harga mendekati area jenuh beli. Bahkan, untuk beberapa seri telah berada pada area jenuh beli. 
 
"Hal tersebut kami perkirakan akan menyebabkan harga SUN bergerak terbatas meskipun masih berpeluang untuk mengalami kenaikan," lanjut Made.
 
Kondisi tersebut terlihat pada pergerakan harga beberapa seri SUN yang terlihat terbatas pada perdagangan kemarin, meskipun nilai tukar rupiah mengalami penguatan yang cukup besar terhadap dolar AS.
 

Tag : surat utang negara
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top