Proyeksi IHSG: Pasar Cenderung Konsolidatif

Pasar saham Indonesia sepanjang pekan depan diperkirakan masih akan berupaya menguji level 6050 setelah kembali mampu menembus level 6000 sepanjang pekan ini dengan kecenderungan yang terus bertahan dalam tren konsolidatif.
Emanuel B. Caesario | 24 November 2018 00:03 WIB
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas Indonesia, Jakarta, Jumat (9/11/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham Indonesia sepanjang pekan depan diperkirakan masih akan berupaya menguji level 6050 setelah kembali mampu menembus level 6000 sepanjang pekan ini dengan kecenderungan yang terus bertahan dalam tren konsolidatif.

Sepanjang pekan ini, IHSG hanya meningkat tipis 0,85%, tetapi mampu ditutup kembali ke level 6006,2 hingga Jumat (23/11/2018). Penguatan tipis ini didukung pula oleh aksi beli asing yang mencapai Rp1,74 triliun sepanjang pekan ini.

Level 6000 sebelumnya sudah dicapai pada 2 hari perdagangan di awal pekan ini, tetapi setelahnya IHSG terkoreksi kembali dan bergerak di kisaran 5920 hingga 6017. Kendati sepanjang satu bulan terakhir IHSG cenderung bergerak meningkat, tetapi penguatan tersebut belum sepenuhnya meyakinkan.

Janson Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa sepanjang pekan ini pergerakan IHSG lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni pelemahan dolar Amerika Serikat dan penurunan harga minyak dunia.

Pelemahan dolar AS ini terjadi terhadap semua mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia dengan rupiah yang kini bergerak di kisaran 14500 – 14600 per dolar AS. Melemahnya harga minyak dunia juga menjadi katalis positif bagi perbaikan CAD Indonesia, sehingga mengurangi tekanan terhadap IHSG.

Penguatan rupiah ini mendorong asing untuk kembali masuk ke pasar dalam negeri secara perlahan. Sepanjang November, Janson mencatat arus masuk investor asing di pasar saham sudah mencapai US$600 juta, sedangkan di pasar obligasi atau Surat Berharga Negara sudah mencapai US$2,5 miliar.

Menurutnya, kembali masuknya investor asing ke pasar SUN dan IHSG disebabkan karena valuasinya sudah sangat murah. Adapun, PBV IHSG kini masih 2x, di bawah rata-rata 10 tahun terakhir yang sebesar 2,7x.

“Pergerakan IHSG minggu depan tergantung apakah IHSG bisa tembus resistant 6050. Apabila tembus resistant tersebut, IHSG mencoba ke resistant 6100 – 6200,” katanya, Jumat (23/11/2018).

Sentimen Eksternal

Janson mengatakan, potensi tersebut akan bergantung pada sentimen eksternal, khususnya sentimen perang dagang.  Dirinya berharap AS akan melunak terhadap kebijakan mereka, sebab sudah banyak korporasi AS yang menurunkan proyeksi pertumbuhan kinerja laba mereka untuk tahun depan karena dampak negatif perang dagang ini.

Secara sektoral, dirinya masih memfavoritkan perbankan karena sektor tersebut menorehkan kinerja laba bersih yang sangat baik pada kuartal III/2018 lalu. Saham-saham pilihannya adalah 4 saham BUMN yakni BBRI, BBNI, BMRI, dan BBTN.

Selain itu, emiten yang menurutnya juga menarik yakni sektor telekomunikasi khususny TLKM, sektor otomotif khususnya ASII, sektor konsumer seperti ICBP, MYOR, dan KLBF, sert sektor tambang seperti INCO dan PTBA.

Valdy Kurniawan, Analis Phintraco Sekuritas, mengatakan bahwa pergerakan IHSG yang cenderung konsolidatif merupakan dampak dari aksi profit taking sebagian trader yang dipicu sentimen teknikal adanya indikasi overbought pada stochastic.

Kendati demikian, IHSG kini masih berada dalam tren pembalikan arah menuju bullish, mengingat indikator MACD masih cenderung naik pasca membentuk golden cross di awal pekan ini.

Hanya saja, selain faktor teknikal, sentimen khusus relatif belum minim di pasar, baik dari data domestik maupun ektrenal sehingga IHSG cenderung konsolidatif. Namun, pada pekan depan pasar akan menerima cukup banyak data ekonomi penting yang akan berimbas pada kinerja IHSG. Dari dalam negeri, akan dirilis data inflasi yang diperkirakan masih akan terkendali di bawah 3,5% yoy hingga akhir tahun nanti.

Kepala The Fed

Sementara itu, dari luar negeri akan ada data pertumbuhan ekonomi AS yang diikuti dengan pernyataan Kepala The Fed. Valdy memperkirakan tidak ada pernyataan yang mengejutkan dari kepala The Fed, yakni bahwa The Fed akan tetap menaikkan suku bunga pada Desember nanti.
Sebelumnya, kepala ECB juga akan berpidato dan menyampaikan mengenai kebijakan suku bunga ECB.

“Jika semua sesuai ekspektasi, IHSG berpeluang kembali menguji level 6000 – 6050 pada pekan depan,” katanya, Jumat (23/11/2018).

Valdy menilai sektor-sektor yang cukup menarik utnuk dijajaki pekan depan yakni perbankan, properti dan konstruksi. Saham-saham pilihannya yakni BBRI, BMRI, BBNI, WIKA, ADHI, dan BSDE.

Saham-saham sektor properti dan konstruksi memang mengalami peningkatan harga akhir-akhir ini,yang kemungkinan karena menjadi sasaran window dressing, mengingat harganya banyak terkoreksi sepanjang tahun ini.
 
 

Tag : IHSG, Kebijakan The Fed
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top