Sentimen Harga Minyak Buka Peluang Pemulihan Pasar

Harga minyak dunia yang terus mencatatkan penurunan berpotensi menjadi sentimen positif yang akan mendorong pemulihan harga obligasi domestik, meskipun berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di tengah kondisi ketidakstabilan pasar global yang masih tinggi.
Emanuel B. Caesario | 22 November 2018 07:25 WIB
Obligasi

Bisnnis.com, JAKARTA—Harga minyak dunia yang terus mencatatkan penurunan berpotensi menjadi sentimen positif yang akan mendorong pemulihan harga obligasi domestik, meskipun berbagai kemungkinan masih bisa terjadi di tengah kondisi ketidakstabilan pasar global yang masih tinggi.

Berdasarkan data Bloomberg per Rabu (21/11), harga minyak WTI sudah mencapai US$54,21 per barrel, sedangkan Brent US$63,28 per barrel. Padahal, pada akhir Oktober, harga minyak mentah WTI masih pada level US$66,64 per barrel dan Brent US$76,75 per barrel.

Investment & Portofolio Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar mengatakan bahwa turunnya harga minyak mentah dunia membuat kemungkinan kenaikan harga BBM pada 2019 kian sulit.

Dengan demikian, inflasi Indonesia tidak akan terlalu tinggi juga tahun depan. Padahal, dengan asumsi kenaikan harga BBM, inflasi diperkirakan berada pada kisaran 3,5% atau relatif cukup rendah.

“Sehingga obligasi 10 tahun kita yang sekarang yield-nya masih di sekitar 8% itu masih sangat menarik, karena seharusnya valuasinya terhadap inflasi 3,5% adalah pada level 6%. Sekarang inflasi kita justru masih di 3,1% - 3,2%,” katanya, Rabu (21/11).

Anil mengatakan, tantangan bagi pasar surat utang Indonesia saat ini adalah pada stabilitas rupiah. Bila nilai tukar rupiah bisa terjaga stabil dan arus masuk investor asing kembali masif, masalah di pasar surat utang Indonesia seharusnya sudah selesai.“Jadi, itu satu perubahan paradigma yang mungkin belum di-priced in oleh investor,” katanya.

Anil mengatakan, pasar kini tengah mengamati sejauh mana potensi stabilitas harga minyak yang rendah ini di masa mendatang. Menurutnya, ada kemungkinan suku bunga acuan Bank Indonesia justru akan turun tahun depan melihat dinamika harga minyak saat ini.

Menurutnya, bila harga minyak WTI stabil pada level US$54 – US$60 per barel dalam 3 bulan ke depan, arus masuk investor asing di pasar surat utang dan pasar modal Indonesia mestinya akan sangat deras pada Januari 2019 karena murahnya valuasi di Indonesia.

Hal ini akan mendorong yield surat utang Indonesia semakin bergerak turun. Bila merespons hal tersebut, Bank Indonesia mestinya akan menurunkan suku bunga acuannya. Lagi pula, harga minyak yang rendah ini menyebabkan Amerika Serikat justru berpotensi menghadapi deflasi sehingga berpotensi menahan laju kenaikan suku bunga.

“Namun, itu semua bisa terjadi kalau kondisinya stabil seperti saat ini. Kalau harga minyak berubah lagi dan berbalik arah, keadaan bisa saja berubah dengan cepat,” katanya.

Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa turunnya harga minyak mentah dunia akan berimplikasi terhadap turunnya angka CAD Indonesia, mengingat tingginya biaya impor minyak Indonesia selama ini.

Posisi CAD yang lebih baik secara alami akan meningkatkan kepercayaan investor global terhadap Indonesia dan menarik arus masuk investasi mereka. Hal ini sudah terlihat dari membaiknya nilai tukar rupiah sepanjang bulan ini serta turunnya yield surat utang negara (SUN).

Hanya saja, harga minyak dunia sangat erat terkait dengan beragam konflik kepentingan antara negara-negara global sehingga sulit diprediksi sejauh mana harga yang rendah ini akan bertahan.

Di sisi lain, Bank Indonesia sudah terlanjur memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Days Repo Rate. Padahal, beberapa hari setelahnya muncul pernyataan bernada dovish dari pejabat The Fed sehingga probabilitas bagi kenaikan Fed Fund Rate pada Desember turun dari semula 75,8% menjadi 68,9%.

Naiknya BI 7-DRR menjadi 6% sewajarnya mendorong yield SUN 10 tahun yang kini pada kisaran 8% ke level 8,46%. Kendati ada penurunan harga minyak, stabilitas rupiah, dan arus masuk investor asing, yield SUN 10 tahun ternyata tidak mampu segera menembus level di bawah 8%.

“Ini menjadi tanda tanya bagi pasar, artinya ini akan membentuk fase konsolidasi bagi obligasi dalam negeri, dia tidak bisa menguat seperti penguatan yang pernah terjadi sebelumnya. Jadi, justru akan ada potensi pelemahan di sana,” katanya.

Dhian Karyantono, analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa pergerakan harga minyak dunia merupakan indikator utama bagi yield SUN. Namun, penurunan harga minyak selama ini masih belum diikuti oleh penurunan yield SUN.

 Oleh karena itu, Dhian menyarankan investor untuk mengantisipasi hal tersebut dengan membeli secara bertahap seri-seri SUN yang likuid seperti FR0063, FR0064, FR0077, FR0078, FR0065, FR0072, dan FR0075.

 Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa di tengah kondisi harga minyak yang sedang rendah, Arab Saudi membuka wacana untuk mengurangi produksi minyak 1 juta barel per hari bersama dengan OPEC dan negara sekutunya.

Bila hal tersebut terjadi, harga minyak justru akan berpeluang naik lagi di masa mendatang, sehingga yield SUN kemungkinan tidak akan bertahan lama bila menguat. Hal ini lah yang akan menjadi perhatian pelaku pasar ke depan.

 

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top