EMITEN BARU: Garudafood (GOOD) Lirik Instrumen Pendanaan Lain di Pasar Modal

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. berencana  mencari pendanaan baru di pasar modal untuk  memenuhi kebutuhan  ekspansi perusahaan.
Novita Sari Simamora | 11 Oktober 2018 00:15 WIB
Direktur Independen PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) Rudy Brigianto (dari kiri), berbincang dengan Direktur Fransiskus Johny, Komisaris Utama Sudhamek Agoeng Soenjoto, Direktur Utama Hardianto Atmadja, dan Direktur PT Bursa Efek Indonesia Laksono Widito Widodo, di sela-sela pembukaan perdagangan saham di Jakarta, Rabu (10/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya
Bisnis.com, JAKARTA -- PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. berencana  mencari pendanaan baru di pasar modal untuk  memenuhi kebutuhan  ekspansi perusahaan.
Pada Rabu (10/10/2018), Garudafood telah melantai di pasar modal Indonesia dengan melepas 10,34% kepada publik atau 762,84 juta. Adapun, Garudafood melaksanakan konversi mandatory convertible bond (MCB) sebanyak 727,84 juta atau setara 9,86%.
Pelu diketahui, Garudafood memiliki perjanjian investasi (investment agreement) pada 29 Maret 2018 yang dibuat antara perseroan dengan Pelican. Isinya, Garudafood menerbitkan MCB kepada Pelican dengan jumlah pokok sebesar Rp934,99 miliar dan ditukar dengan saham dalam perseroan, dengan sertifikat MCB pada 20 April 2018.
Dalam prospektur perseroan, tertulis bahwa bila Garudafood gagal membayar setiap jumlah terkait rencana pelunasan MCB Pelican tersebut pada tanggal jatuh tempo yang telah disepakati, maka bunga akan timbul atas jumlah terutang dan lewat jatuh tempo tersebut dengan tingkat suku bunga setara dengan 12% per tahun.
Direktur Utama Garudafood Hardianto Atmadja mengungkapkan, setelah mengkonversi MCB kepada Pelican, maka perseroan hanya mengantongi dana senilai Rp44 miliar dari hasil initial public offering. Awalnya, perseroan mengincar dana senilai US$200 juta dari pasar modal.
Hardianto menuturkan, setelah perseroan menghitung ulang kebutuhan, maka diperoleh angka tersebut. Dia mengungkapkan, perseroan pun tengah merancang pencarian dana di pasar modal. "Tujuan IPO enggak hanya menarik dana saat IPO. Banyak tujuan yang lain, karena setelah kami masuk, ada instrumen lain," ungkapnya, Rabu (10/10/2018).
Secara gamblang, Hardianto mengatakan, tidaklah sulit untuk mencari dana sekitar Rp1 triliun, cara lain yang bisa dilakukan dengan melakukan pinjaman kepada perbankan. Namun, perseroan lebih memilih opsi IPO untuk meningkatkan transparansi dan good corporate governance (GCG).
Dalam prospektus, Garudafood memiliki aset senilai Rp4,36 triliun, terdiri dari liabilitas dan ekuitas masing-masing senilai Rp2,09 triliun dan Rp2,27 triliun.
Lebih rinci, emiten bersandi saham GOOD memiliki utang bank jangka pendek per April 2018 senilai Rp142,2 miliar dan utang bank jangka pendek dari pinjaman jangka panjang senilai Rp288,33 miliar. Namun, hingga April 2018, Garudafood memiliki arus kas senilai Rp226,39 miliar.
Director Head of Investment Banking PT Indo Premier Sekuritas Rayendra L. Tobing, mengatakan saham Garudafood diharapkan akan menjadi salah satu saham konsumer pilihan yang menarik untuk berinvestasi. 
Ray menambahkan, periode penawaran umum yang dilaksanakan pada 2-4 Oktober 2018, pemesanan saham Garudafood mengalami kelebihan permintaan hingga 6 kali dari total saham yang ditawarkan. Dia mengatakan, kepercayaan publik yang besar terhadap kinerja Garudafood dan prospek usaha ke depannya.
Tag : kinerja emiten, garudafood
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top