Permintaan Menguat, Harga Kakao Berpotensi Rebound

Produsen kakao terbesar dunia akan segera bisa bernapas lega menjauh dari pelemahan harga kakao sepanjang tahun yang membuat perekonomian Afrika Barat berada dalam krisis.
Mutiara Nabila | 30 September 2018 21:19 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA — Produsen kakao terbesar dunia akan segera bisa bernapas lega menjauh dari pelemahan harga kakao sepanjang tahun yang membuat perekonomian Afrika Barat berada dalam krisis.

Setelah dua tahun mengalami panen yang menumpuk hingga menyebabkan pasokan global surplus, pasar kini mulai bisa berbalik arah. Permintaan kakao diperkirakan dapat membuat pasokan defisit hingga 50.000 ton pada musim yang berawal pada 1 Oktober mendatang.

Analis Rabobank International di London Carlos Mera mengatakan bahwa musim depan bisa jadi lebih seimbang untuk perdagangan kakao, ditambah dengan hasil panen yang cukup bagus dari Afrika Barat.

“Kami memperkirakan permintaan akan terus naik. Pasar yang lebih seimbang bisa membantu produsen di Pantai Gading, yang tahun lalu dipaksa memangkas harganya hingga titik terendah setelah pasokan global mengalami surplus tajam,” ujar Mera, dilansir dari Bloomberg, Minggu (30/9/2018).

Di Ghana, pembuat kebijakan soal kakao kesulitan untuk menyeimbangan pembukuannya karena harga terus merosot di bursa London dan New York.

Pada penutupan perdagangan Jumat (28/9), harga kakao di bursa Intercontinental Exchange (ICE) masih mencatatkan penurunan tajam hingga 57 poin atau 2,70% menjadi US$2.057 per ton dan membukukan kenaikan harga hingga 8,72% selama 2018 berjalan.

Harga kakao di bursa London itu sudah diperdagangkan dengan penurunan harga hingga 40% dari puncak harganya pada 2016 silam, memicu sejumlah langkah dari Ghana dan Pantai Gading yang mengatakan bahwa kedua negara itu akan mengguncang pasar.

Kedua negara itu kemudian mengumumkan akan membayar harga jual untuk petani secara bersamaan.

Pantai Gading akan memproduksi 2 juta ton kakao pada musim depan, turun sedikit dari periode yang sama tahun lalu. Dalam sejarahnya, produksi di Pantai Gading melonjak karena harganya sempat memuncak pada 2012 hingga 2015, membuat petani terus menambah lahan pertaniannya bahkan hingga masuk ke hutan lindung.

Sementara itu, di Ghana, produksinya diperkirakan hanya akan mencapai 877.000 ton, hampir sama dengan periode tahun lalu.

Ketika banyak trader yang memperkirakan panen musim depan akan membludak, ada ramalan cuaca El Nino yang bisa membatasi jumlah panen. Selain itu, margin pengolahan kakao yang tinggi juga dapat membantu pengolahan kakao global bertumbuh hingga 3%.

Pantai Gading, yang akan menjual hampir seluruh panennya sebelum musim depan dimulai, mendapat keuntungan dari kenaikan harga pada awal tahun ini. Kemudian, petani negara itu juga berencana untuk meningkatkan harga minimum untuk dibayarkan kepada petani sekitar 750 – 800 franc atau sekitar US$1,33 per kilogram.

Harga tersebut sepadan dengan perkiraan 9 analis dan trader yang disurvei oleh Bloomberg yang mengatakan bahwa harga minimumnya akan dinaikkan di kisaran 750 franc.

“Banyak perhatian yang akan tertuju pada kenaikan harga tetap yang akan dibayarkan ke petani di Pantai Gading. Kami mengharapkan Ghana dan Pantai Gading bisa berkoordinasi untuk mengumumkan kenaikan harga secara bersamaan.”

Tag : kakao
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top