Emisi IPO Kuartal III/2018 Naik 175%

Nilai emisi pencatatan saham perdana alias initial public offering (IPO) pada kuartal III/2018 mencatatkan angka yang cukup signifikan.
Tegar Arief | 30 September 2018 16:55 WIB
Siluet pengunjung mengamati layar informasi IHSG, di gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Senin (17/9/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai emisi pencatatan saham perdana alias initial public offering (IPO) pada kuartal III/2018 mencatatkan angka yang cukup signifikan.

Dari data yang dirilis Bursa Efek Indonesia (BEI), total nilai emisi IPO pada periode Juli-September tahun ini adalah Rp4,8 triliun. Angka tersebut melonjak drastis yakni sebesar 175,78% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yakni hanya Rp1,74 triliun.

Jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di pasar modal juga mengalami lonjakan cukup tajam. Pada kuartal III/2017 jumlah emiten baru hanya sebanyak 6 perusahaan, dan pada kuartal III/2018 sebanyak 16 perusahaan atau mengalami kenaikan sebesar 166,66%.

"Perusahaan tercatat semakin banyak, ini juga akan menguntungkan emiten karena akan meningkatkan kepercayaan dari investor," kata Direktur Penilaian BEI Nyoman Yetna, akhir pekan lalu.

Menurutnya, IPO menjadi langkah tepat bagi perusahaan untuk mengembangkan bisnisnya. Selain mendapatkan suntikan dana dari investor baik institusi maupun ritel, IPO juga akan meningkatkan tata kelola atau good corporate governance.

Tahun ini, jumlah IPO memang cukup tinggi.Sepanjang tahun berjalan atau year to date per akhir September, total perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa mencapai 37 emiten dengan nilai emisi mencapai Rp12,97 triliun.

Jumlah penghimpunan dana ini melampaui torehan sepanjang tahun lalu yang hanya mencapai Rp9,59 triliun, atau melonjak 35,24%. Angka tahun ini berpotensi terus meningkat mengingat daftar pipeline IPO masih cukup panjang.

Ada 23 perusahaan yang masuk ke dalam daftar tunggu IPO. Perusahaan yang baru saja mendaftar di otoritas pasar modal adalah PT Bersatu Sejahtera Mandiri yang bergerak di sektor perdagangan dan jasa.

Selain itu juga ada PT Urban Jakarta Propertindo, yakni perusahaan properti dan real estate, serta PT Estika Tata Tiara yang menjalankan bisnisnya di sektor consumer goods industry.

Beberapa perusahaan yang masuk dalam pipeline tersebut menggunakan tahun buku yang berakhir per 31 Maret 2018, di mana proses pencatatan seharusnya dilakukan paling lambat pada Jumat pekan lalu atau 6 bulan setelah laporan keuangan itu terbit.

"Tapi kami memberikan dispensasi atau waktu untuk melakukan perbaikan sehingga nanti proses IPO tetap bisa dijalankan pada tahun ini," ujar Nyoman.

Kepala Riset Narada Kapital Indonesia Kiswoyo Adi Joe menilai, banyaknya perusahaan yang mencari pendanaan dari pasar disebabkan oleh beberapa hal. Pertama keberhasilan otoritas melakukan sosialisasi dan edukasi.

Kedua adalah faktor suku bunga perbankan. Tahun ini, suku bunga perbankan untuk pinjaman perusahaan memang cukup tinggi. Apalagi Bank Indonesia cukup agresif mengerek laju suku bunga sebagai salah satu upaya untuk mengimbangi kebijakan di AS.

"Pasar modal menjadi satu-satunya pilihan, karena suku bunga sudah naik cukup tinggi. Ini yang menyebabkan IPO banyak dan nilainya besar," ujar Kiswoyo.

Hal itu, kata dia, terlihat dari beragamnya perusahaan yang melakukan IPO. Artinya, tidak hanya perusahaan besar yang melakukan IPO tapi juga perusahaan kelas menengah, sehingga target dana juga tidak terlalu besar.

"Banyak yang IPO nilainya kecil. Artinya kebutuhannya IPO tidak hanya untuk membayar utang atau refinancing tapi juga murni untuk perluasan bisnis atau ekspansi."

Tag : bursa efek indonesia, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top